Miris, Kisah Nenek Asuh 4 Cucu yang Ditelantarkan Pasutri di Bali Demi Dimas Kanjeng
Dia berharap anak dan menantunya segera pulang dan berhenti menjadi pengikut Taat Pribadi, yang disebut-sebut mampu menggandakan uang.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR – Pasangan suami istri (pasutri), I Made Niarjana (40) alias Malen dan Ni Made Sukariasih (37), yang menjadi pengikut Dimas Kanjeng Taat Pribadi sejak 9 September 2016 memilih menetap di padepokan Probolinggo, Jawa Timur.
Selama menantikan uang yang dijanjikan cair, pasutri tersebut menelantarkan empat orang anaknya. Kini empat anak itu diurus oleh neneknya yang sakit-sakitan.
Ketika Tribun Bali mengunjungi rumah pasutri itu di Banjar Gelgel, Desa Keramas, Kabupaten Gianyar, Bali, Kamis (20/10/2016), keadaan rumahnya sangat memprihatinkan.
Hanya ada sebuah bangunan ukuran 6 x 5 meter yang disekat menjadi dua kamar.
Di rumah berlantai semen itu, Ni Nyoman Sukerni (65) terus menangisi keadaan keluarganya.
Dia berharap anak dan menantunya segera pulang dan berhenti menjadi pengikut Taat Pribadi, yang disebut-sebut mampu menggandakan uang.
“Tidak usah uang kembali. Asalkan anak mantu saya pulang dalam keadaan selamat. Kasihan empat anaknya tidak ada mengurus. Kami hanya makan hasil jualan sayuran. Hanya cukup untuk makan sekali sehari. Untung cucu-cucu saya mengerti, mereka tidak penah minta uang jajan saat ke sekolah,” ujar Sukerni lalu menitikkan air mata.
Sembari mengusap air mata, Sukerni mengaku tidak mengetahui sejak kapan anak dan menantunya itu kenal dengan Dimas Kanjeng.
Namun seingatnya, beberapa tahun lalu, Malen pernah memberikan uang pada Dimas Kanjeng senilai Rp 5 juta.
Tak berselang lama uang yang diterima Malen berlipat ganda menjadi Rp 30 juta.
Setelah kejadian itu, Malen pun meminjam uang Rp 500 juta pada saudaranya untuk dilipatgandakan. Namun uang yang diterimanya hanya Rp 50 juta.
Bukannya curiga dan menuntut uang dikembalikan, Malen malah kembali memberikan uang ke Dimas Kanjeng.
Di antaranya, uang sebesar Rp 50 juta yang dipinjamnya dari koperasi milik desa.
Tak sampai di situ, Malen yang bekerja sebagai sopir truk ini juga meminjam uang puluhan juta pada teman-temannya sesama sopir truk.
“Karena jumlah uangnya banyak di sana, sebelum pergi ke Jawa mereka bilang baru akan kembali setelah uang yang dijanjinkan Dimas Kanjeng didapatkan,” ungkap Sukerni.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/foto-repro-dimas_20161021_093144.jpg)