Sampah di Bali
Warga Membeludak Datangi TPS3R Sesetan Bali, TPA Bengkala Buleleng Hanya Terima Sampah Residu
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng mulai menerapkan kebijakan tegas dalam penanganan sampah.
TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Tempat Pengolahan Sampah - Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Sesetan, Denpasar yang baru beroperasi kurang dari satu bulan menjadi sorotan di media sosial.
Hal ini dikarenakan membeludaknya warga yang membawa sampah ke TPS3R yang sempat memicu ketegangan dan banyak yang membuang sampah di pinggir jalan ke TPS3R tersebut.
Video kejadian tersebut sempat viral di media sosial.
Fasilitas yang sedianya diperuntukkan bagi warga Kelurahan Sesetan dan Pedungan itu kewalahan akibat serbuan sampah dari warga luar wilayah tersebut pada Kamis 9 April 2026 lalu.
Baca juga: Mulai 1 Mei, Warga Buleleng Wajib Pilah Sampah dari Rumah, TPA Bengkala Hanya Terima Sampah Residu
Pengawas TPS3R Sesetan, I Wayan Suarta, mengungkapkan bahwa volume sampah saat ini sudah melebihi kapasitas ideal.
“Jika hanya melayani warga Sesetan dan Pedungan, volumenya tidak akan sebanyak ini. Kenyataannya, banyak warga dari luar yang ikut membawa sampah di sini sehingga sampah membeludak,” ujar Suarta.
Untuk mengatasi persoalan ini, pihak pengelola tengah mengkaji aturan terkait identitas pembuang. Ke depan, warga yang datang membawa sampah akan diminta menunjukkan KTP guna memastikan asal domisili mereka.
Bagi warga pendatang, juga rencananya akan diminta menunjukkan surat keterangan domisili dari Kepala Lingkungan (Kaling) setempat.
Meski demikian, Suarta mengaku petugas di lapangan saat ini masih dalam posisi dilematis.
“Untuk sementara kami belum berani menyetop total orang luar, karena sampah di pinggir jalan sudah sangat banyak. Kami khawatir terjadi gesekan atau konflik antara petugas dengan warga jika dilarang secara mendadak,” imbuhnya.
Setiap harinya, TPS3R Sesetan menerima kiriman sampah rata-rata mencapai 15 ton.
Dari jumlah tersebut, sampah upakara mendominasi hingga 70 persen sebagai sampah organik.
Mengingat tingginya volume organik, petugas mewajibkan masyarakat untuk melakukan pemilahan mandiri sebelum masuk ke area mesin pencacah.
“Kami terus mengimbau agar sampah dipilah dulu. Karakter masyarakat memang berbeda-beda, ada yang sudah sadar, ada yang belum. Edukasi tetap berjalan karena pemilahan di sumber akan mempercepat kerja mesin dan petugas kami,” tambah Suarta.
TPS3R yang mulai beroperasi sejak 25 Maret 2026 ini masih dalam tahap uji coba dan evaluasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Sempat-Terjadi-Ketegangan-dan-Sampah-Membeludak-TPS3R-Sesetan-Bali-Pertimbangkan-Syarat-KTP.jpg)