Inspirasi
Dulu Diejek Kolok, Kini Putu Shintya Menjelma Putri Tuli Se-Bali 2016
Ia menceritakan perjuangannya selama ini menjadi seorang tuna rungu, yang baru diketahui kedua orangtuanya saat dirinya masih berusia tiga bulan.
Penulis: Sarah Vanessa Bona | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Putu Shintya Devi Yuda(18) terus tersenyum saat sedang berbincang-bincang dengan ibunya, Ni Luh Sudiasih, dan juga gurunya semasa sekolah dulu, Sri Aemi.
Ia menceritakan perjuangannya selama ini menjadi seorang tuna rungu, yang baru diketahui kedua orangtuanya saat dirinya masih berusia tiga bulan.
Gadis kelahiran Kaliungu Denpasar 24 Agustus 1998 silam itu menjadi Juara 1 Putri Tuli dalam Pemilihan Putra Putri Tuli (P3T) se-Bali 2016.
Acara itu diadakan oleh Koordinator Kegiatan Kesejahteraan Sosial (K3S) Kota Denpasar pada Sabtu (29/10/2016) bertempat di Taman Kota Lumintang Denpasar.
Shintya berhasil mengalahkan 14 peserta laki-laki dan 16 peserta perempuan dari seluruh kabupaten/kota dengan persyaratan yang kompetitif dan sangat ketat.
Saat itu dara tiga bersaudara ini harus melalui wawancara umum, tes tentang pengetahuan budaya Bali dan juga Kota Denpasar sebagai kota asal Shintya. Begitu pengumuman juara disampaikan, Shintya sangat senang saat mengetahui dirinya berhasil meraih nomor satu.
"Saya tidak menyangka hingga menangis terharu juga," ujarnya dengan menggunakan bahasa isyarat dan diinterpretasikan oleh Sri Aemi.
Dalam menjalani hidup, Shintya memiliki motto "Tidak Boleh Sombong, Tetap Rendah Hati".
Mottonya itu yang mendorongnya berupaya jadi Juara 1 Putri Tuli Bali.
"Biar saya tuli, itu bukan hambatan. Saya akan tetap berkarya dan saya tetap semangat. Tidak boleh sombong melainkan tetap rendah hati," ujar Sintya mengingat kalimatnya saat masuk grand final pemilihan.
Tak hanya menjadi Putri Tuli Bali, sebelumnya pada tahun 2015 prestasi Shintya adalah menjadi Juara Harapan 2 pada lomba tata rias dan kecantikan tingkat nasional saat mewakili Provinsi Bali.
Shintya yang memiliki hobi modelling dan bermain komputer selalu bersemangat dalam menjalani hidup.
Ia tidak pernah minder meskipun semasa kecil sering diolok-olok oleh teman-teman mainnya.
Usai lulus dari SLBB Negeri Sidakarya, Denpasar, Shintya memutuskan untuk mendaftar pada salah satu kampus swasta di Denpasar.
Selama perkuliahan, mahasiswi semester satu Jurusan Desain Grafis Sekolah Tinggi Desain (STD) Bali ini kurang memahami mata kuliahnya secara teori. Namun, begitu masuk sesi praktek, ia merasa cepat belajar dan cepat bisa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/putu-shintya-devi-yuda_20161109_105021.jpg)