Ayah dari Bayi yang Diduga Tertukar Pertanyakan Keakuratan Tes DNA RSUP Sanglah
Itu yang membuat saya kembali ke RSUP Sanglah dan meminta pertanggungjawaban terkait keterangan medis yang RSUP Sanglah keluarkan.
Penulis: Sarah Vanessa Bona | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Subagio (29) kembali mendatangi RSUP Sanglah, Denpasar, Bali.
Tapi, kedatangannya kali ini adalah meminta pertanggungjawaban RSUP Sanglah terkait hasil pemeriksaan DNA, yang menyatakan bahwa bayi yang saat ini ia rawat bersama sang istri Sumarni (25), bukanlah anak kandungnya.
Baca: Dugaan Bayi Tertukar, Hasil Tes DNA RSUP Sanglah Beda dengan RS Pembanding
Sebab, hasil tes DNA RSUP Sanglah berbeda dengan dua hasil tes DNA yang Subagio lakukan di Pusdokkes Mabes Polri, dan Laboratorium Eijkman di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.
“Perbedaan hasil tes DNA itu membuat upaya hukum yang saya lakukan jadi mandek untuk sementara waktu,” kata Subagio saat ditemui di RSUP Sanglah, Denpasar, Kamis (10/11/2016).
Sebelumnya, berbekal hasil tes DNA RSUP Sanglah, Subagio melaporkan RSUD Bima di kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), ke kepolisian.
Subagio menduga kuat, bayi yang dilahirkan istrinya secara caesar pada 22 Agustus lalu di RSUD Bima, tertukar dengan bayi dari pasien lain.
Namun, upaya hukum yang ditempuh Subagio berbekal hasil tes DNA RSUP Sanglah, kini kandas.
Pasalnya, hasil tes DNA pembanding yang dimintakan RSUD Bima berbeda 180 derajat dengan hasl tes DNA RSUP Sanglah.
RSUD Bima menginginkan tes DNA lagi sebagai pembanding, dan harus dari lembaga lain (di luar RSUP Sanglah).
Pria asal Desa Tolouwi Kecamatan Monta, kota Bima itu kemarin bertemu Kepala Bagian SMF Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Sanglah, dr Ida Bagus Putu Alit SpF. Subagio meminta klarifikasi dan pertanggungjawaban hasil tes DNA yang dilakukan RSUP Sanglah terhadap dirinya, istri dan seorang bayi yang diduganya tertukar pada 31 Agustus lalu.
“Kami menempuh langkah hukum dengan melaporkan RSUD Bima ke Polres Bima, sebab RSUD Bima ngotot mengatakan bahwa bayi yang kini saya rawat memang anak kami. Hasil tes DNA RSUP Sanglah yang kami sodorkan, tidak mereka jadikan pegangan. RSUD minta tes DNA ulang oleh lembaga yang lain,” terang Subagio.
Pada 8 November lalu, Subagio kaget saat mengetahui hasil test DNA yang ia lakukan di Pusdokkes Mabes Polri dan Laboratorium Eijkman menyatakan bahwa bayi yang saat ini dirawatnya bersama sang isteri adalah benar anak kandung Subagio.
"Itu yang membuat saya kembali ke RSUP Sanglah dan meminta pertanggungjawaban terkait keterangan medis yang RSUP Sanglah keluarkan. Sebab, ini akan menjadi dasar bagi saya untuk melangkah lebih jauh lagi dalam memperkarakan hal ini," ujar Subagio saat ditemui di Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Sanglah.
Ia mengatakan saat dirinya menemui dr IB Putu Alit (epala Bagian SMF Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Sanglah), Alit pun terkejut dan seolah tak percaya mengapa hasil DNA bisa berbeda.
"Dokter Alit kemudian menjelaskan tetap meyakini bahwa hasil tes DNA RSUP Sanglah adalah benar dan juga akurat. Bahkan dokter Alit memberikan bentuk pertanggungjawaban berupa pemeriksaan DNA ulang yang akan dibebaskan biayanya oleh RS," terang Subagio yang bekerja sebagai wiraswasta itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/subagio_20161111_102607.jpg)