Dharma Wacana
Bukan Agama yang Salah, Tapi Cara Beragama yang Perlu Dibenahi
Dalam kitab Sarasamuscaya dinyatakan, ‘ayua kita tan masih ring sarwa bawa utawi ring sarwa bhuta’.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sebagai penganut agama Hindu, kita harus bangga karena ajaran kita, maha sempurna.
Kita diajarkan bahwa Tuhan tidak hanya berada di wilayah transenden atau wilayah di luar diri manusia.
Tetapi Tuhan itu berada dan bersemayam di dalam semua mahkluk.
Jadi atas dasar itu, penerapan ajaran agama Hindu mengantarkan kita pada satu tuntunan, bahwa semua makhluk adalah Tuhan, kita harus saling menyayangi.
Dalam kitab Sarasamuscaya dinyatakan, ‘ayua kita tan masih ring sarwa bawa utawi ring sarwa bhuta’.
Karena di dalam setiap makhluk ada percikan-percikan atman, yang merupakan bagian dari Brahman.
Lebih-lebih kita sesama manusia. Lebih tegas lagi dinyatakan, bahwa kelahiran sebagai manusia sangat utama.
Maka selain kita harus mendongkrak keutamaan kita secara pribadi, kita juga harus mendongkrak keutamaan semua orang dengan cara diberlakukan adil. Penuh dengan perilaku yang beradab.
Namun belakangan ini kita saksikan marak sekali, munculnya arogan sektoral.
Atau, banyak sekali bermunculan orang yang ilmu agamanya kurang, tetapi jiwa spiritualitasnya meningkat.
Orang yang seperti ini menganggap dirinya paling benar atas dalih ketuhanan, menjustifikasi orang lain tidak benar.
Keadaan seperti inilah yang menjadi akar munculnya kekerasan agama, khususnya Hindu di Bali.
Orang-orang melakukan tindakan-tindakan kekerasan tanpa pernah merasa berdosa, bahkan atas dalih agama kekerasan itu dianggap wajar.
Ada banyak contoh kekerasan agama yang dilakukan oleh orang yang pemahaman agamanya sedikit, tetapi jiwa spiritualnya tinggi. Tapi Peranda ambil satu contoh saja, yakni saat upacara pawiwahan. Tidak jarang kita temui di Bali, orang yang tengah melaksanakan ritual pernikahan mengabaikan kepentingan umum.
Seperti menutup jalan umum, sehingga menjadi penyebab kemacetan.