Kaleidoskop 2016
3 Tragedi Populer 2016 di Bali: Gadis Dirudapaksa Oknum Polisi Klungkung Hingga Kasus Amokrane
Sejumlah tragedi pernah menyita perhatian publik di Bali sejak Januari 2016. Berikut ini kumpulan tragedi terpopuler, yang pernah terjadi di Bali.
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Tak lama lagi kita membuka lembaran baru di penghujung tahun 2016.
Sejumlah tragedi pernah menyita perhatian publik di Bali sejak Januari 2016.
Berikut ini kumpulan tragedi terpopuler, yang pernah terjadi di Bali.
Di antaranya:
1. Kasus Gadis 17 Tahun Dirudapaksa Oknum Polisi Klungkung dari Mobil Hingga Hotel, Korban Pendarahan!
Oknum anggota polisi berinisial KA diduga melakukan tindak pencabulan terhadap anak di bawah umur.
Anggota Polres Klungkung itu mencabuli BW (17), warga Karangasem, Bali.
Kabid Humas Polda Bali, Kombes Heri Wiyanto mengaku telah menerima informasi laporan tersebut.
Polda Bali akan melakukan penyelidikan terhadap anggotanya berinisial KA, seorang anggota Polres Klungkung.
"Ini adalah korbannya di bawah umur. Jika memang benar dilakukan, akan diterapkan UU Perlindungan Anak. Kami akan menyusun langkah-langkah penyelidikan dan penyidikan," kata Heri di Mapolda Bali, Senin (13/6/2016).
Kuasa Hukum korban, Siti Sapurah menyatakan, kejadian tragis itu terjadi saat korban berumur 12 tahun.
Korban tak terima sudah hampir lima tahun diperlakukan tidak patut dan dalam ancaman.
Saat itu, korban baru saja tamat Sekolah Dasar (SD) di Karangasem, Bali.
Tidak ada biaya sekolah, kemudian bekerja di warung pelaku yang berada di Klungkung, Bali.
Dari bekerja itu, korban tinggal dengan pasangan hidup pelaku yang statusnya tidak jelas.
Korban tidak pernah membayangkan akan diperlakukan tidak senonoh seperti itu, karena ada pasangan hidup pelaku.
"Awalnya tidak ada masalah apa-apa. Tapi kejadian itu terjadi saat korban dan pelaku hanya berdua saja di warung tersebut," kata Sapurah, Senin (13/6/2016).
Saat hanya berdua di warung, korban diminta untuk memijit pelaku.
Janggalnya, pelaku tidak mengenakan sehelai pakaian pun saat dipijat.
Dari hal itu, pelaku mengaku ke korban jika akan mandi setelah dipijat.
Ternyata, itu hanya alasan pelaku yang kemudian melakukan tindak pidana pencabulan terhadap korban.
"Saat berdua itulah, korban di bawah ancaman pembunuhan jika tidak mau bersetubuh dengan pelaku. Korban disuruh membuka baju dan terjadi kejadian itu, " jelas Ipung.
Di bawah ancaman pembunuhan, kejadian pencabulan pun terjadi. Korban pun merintih kesakitan karena kelakuan bejat pelaku.
Korban mengalami pendarahan dan kesakitan di kemaluannya.
Kejadian itu pun akhirnya terus berlanjut, setiap tidak ada pasangan pelaku, pelaku terus melakukan aksinya.
Hingga di tahun 2013, korban memutuskan untuk pergi dan berhenti bekerja di warung pelaku.
Sayangnya, kebejatan pelaku tidak berhenti di situ.
Hingga korban berumur 17 tahun, sering mendapat ancaman-ancaman jika tidak melayani nafsu bejat pelaku.
"Berbagai ancaman pun disampaikan pelaku ke korban. Sampai-sampai pelaku mendatangi rumah korban dan meminta maaf. Tapi, kelakuan bejat itu tetap dilakukan. Bahkan, kakak korban pernah diancam akan ditembak oleh pelaku," ungkap Ipung.
Ipung mengurai, kejadian bejat pelaku ini dilakukan juga di beberapa hotel di Klungkung dan Gianyar dan di mobil Jalan Bypass Ida Bagus Mantra.
Semua kejadian itu dilakukan di bawah ancaman, sehingga korban pun terpaksa mengiyakan keinginan tak patut dari pelaku itu.
Pelaku pun sempat meminta maaf kepada korban.
Namun, lagi-lagi pelaku melakukan perbuatannya dan tidak berhenti.
Akhirnya, untuk menekan dan menebar ancaman itu, pelaku menyebar foto bugil korban.
Berita terkait dapat dilihat di bawah ini:
Baca: Gadis 17 Tahun Dirudapaksa Oknum Polisi Klungkung dari Mobil Hingga Hotel, Korban Pendarahan!
2. Kisah Bule Amokrane yang Buat Onar di Bali, Sampai Polisi Kesulitan Melumpuhkannya
Bule Prancis, Amokrane Sabet yang meresahkan Warga Berawa, Kuta Utara, Badung, Bali, melakukan penusukan terhadap seorang anggota kepolisian, Senin (2/5/2016).
Atas aksinya tersebut, ia ditembak oleh polisi.
Sebelumnya, Tribun Bali telah menghimpun informasi mengenai ulah Amokrane yang meresahkan setiap orang yang berada di Berawa, baik warga, pekerja pariwisata, pemilik akomodasi pariwisata, dan para wisatawan tengah dalam kesusahan lantaran Amokrane Sabet (49), warga berkebangsaan Prancis, mengancam keselamatan mereka.
Menurut seorang pemilik restoran yang tak mau disebutkan namanya, Amokrane telah di-blacklist oleh pemilik akomodasi pariwisata di dua wilayah.
Yakni di Berawa dan Seminyak-Kuta.
Ini beberapa keonaran yang telah diperbuat Amokrane:
- Memakai fasilitas pariwisata tanpa pernah mau membayar.
- Ugal-ugalan saat mengendarai mobilnya sambil menyalakan music dengan kencang
- Makan di restoran tanpa membayar.
- Mengancam
- Berkata yang menyakitkan hati bahkan mau pinjam istri orang
- Terakhir kali yang dilakukan hari ini, Senin (2/5/2016) melakukan penusukan pada seorang petugas kepolisian.
Atas beberapa keresahan yang telah ia tebarkan di masyarakat, pihak kepolisian telah memanggilnya namun belum berhasil ditangani.
Hingga akhirnya ia terpaksa ditembak karena melakukan penusukan terhadap petugas kepolisian.
Berdasarkan informasi yang dihimpun di Polsek Kuta Utara, tahun 2015 lalu Amokrane pernah dipanggil pihak kepolisian karena kerap membuat resah di Berawa.
7 April , Amokrane juga kembali dilaporkan warga karena suka mengancam dan ugal-ugalan mengendarai mobil di Jalan Pantai Berawa.
Namun surat panggilan yang diberikan langsung pada Amokrane disobek, dan dia tak memenuhi panggilan polisi.
Link berita terkait dapat Anda baca di bawah ini:
Baca: Siapa Sebenarnya Bule Amokrane? Ini Daftar Keonarannya di Bali
3. Kisah Dua Bule Cantik Jatuh ke Jurang Angker Kaliasem Bali, Hingga Tewas!
Wilijana Vujaklija (36) seorang Warga Negara Asing (WNA) asal Serbia terduduk lemas di atas satu bed Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Buleleng, Rabu (14/9/2016).
Raut wajahnya terlihat pucat, sebab selain harus menahan rasa sakit di beberapa bagian tubuhnya, ia juga memikirkan temannya, Sanaa Hissame (26) WNA asal Maroko yang tewas usai kecelakaan.
Kedua WNA itu mengalami kecelakaan saat akan berkunjung ke Pantai Lovina sekitar pukul 06.00 Wita.
Sepeda motor yang mereka kendarai terjatuh di jurang saat melintasi jalan yang curam dengan turunan disertai tikungan yang tajam.
Keduanya bersama sepeda motor yang dikendarai terjatuh di jurang sedalam lima meter yang di dasarnya penuh bebatuan keras.
Wilijana yang ketika itu dibonceng hanya mengalami luka ringan berupa lecet pada kaki kanannya dan memar di beberapa tubuhnya akibat terjatuh.
Sementara Sanaa yang membonceng langsung tidak sadarkan diri setelah kepalanya yang meski berhelm membentur bebatuan di dasar jurang.
Ia tewas dalam perjalanan ke RSUD Buleleng.
Wilijana dengan berbahasa Inggris menceritakan ketika itu dirinya bersama Sanaa yang sudah menginap tiga hari di satu vila di Ubud akan berkunjung ke Pantai Lovina untuk menyaksikan atraksi lumba-lumba sekaligus Festival Lovina yang diselenggerakan Pemkab Buleleng.
Keduanya yang merupakan mahasiswa perguruan tinggi di Jepang memutuskan untuk berangkat pagi buta supaya dapat mengejar waktu berwisata atraksi lumba-lumba yang biasanya dimulai antara pukul 05.00 sampai 07.00 Wita.
Mereka berdua berboncengan menggunakan sepeda motor Honda Vario DK 5237 CW yang disewanya dari Ubud tanpa ditemani pemandu wisata.
Alasannya karena sekaligus ingin berpetualang dan ongkosnya lebih murah.
Berbekal petunjuk jalan dari sejumlah orang dan aplikasi google maps, mereka berangkat sekitar pukul 04.00 Wita.
Saat sampai di dataran tinggi hujan turun disertai kabut sehingga mereka memutuskan untuk mengenakan jas hujan.
Jalan yang mereka lintasi merupakan jalan pintas jalur Singaraja-Tigawasa dengan kondisi jalan yang sangat curam dan penuh tikungan tajam.
Sesampai di lokasi kejadian, tepatnya di Dusun Asah, Desa Kaliasem, Kecamatan Banjar, Buleleng, Sanaa tidak dapat mengendalikan sepeda motornya karena kondisi jalan yang berupa turunan curam disertai tikungan tajam.
Perjalanan mereka sebenarnya akan sampai tujuan, hanya menyisakan tiga kilometer saja dari Lovina dan melintasi tiga tikungan lagi, tetapi nasib berkata lain.
“Teman saya kesulitan lewat jalannya. Dia kaget lewat jalan yang mengerikan, motor melaju dan tidak bisa lebih pelan. Kami teriak sebelum jatuh, tidak mungkin motor belok. Kami jatuh di bawah banyak batu keras, kepala teman saya kena batu. Saya tidak percaya dia tidak sadar,” kata Wilijana.
Nyawa Sanaa tidak dapat diselamatkan setelah menderita luka yang cukup parah di kepala, bibir robek, hidung pecah, mata memar dan patah pada leher.
Seorang warga, Ketut Budiantara (26) mengatakan jika jalan tempat kecelakaan kedua WNA tersebut rawan kecelakaan dan terkesan angker.
Dalam sebulan terakhir saja sudah ada tiga mobil yang terperosok ke jurang karena kesulitan melalui tikungan tajam disertai turunan dan tanjakan yang curam itu.
“Jalan di sini memang gak cocok untuk bule yang belum tahu medan, biasanya mereka lebih pilih memutar sampai ke Banyuatis kalau dari selatan. Sudah banyak yang kecelakaan di sini, tenget memang. Lebih baik kalau lewat sini bunyikan klakson sambil pelan-pelan biar selamat,” katanya.
Link berita terkait dapat Anda baca di bawah ini:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/amokrane_20161213_164754.jpg)