Dharma Wacana

Ekstrimnya Tradisi Perang Api, Ternyata Ini Maknanya!

Sesungguhnya tradisi perang api di Bali bukan untuk menyakiti teman yang diajak berperang.

Tribun Bali/ I Nyoman Mahayasa
Sejumlah Pemuda melaksanakan siat api (perang Api) di depan bale banjar Desa Pekraman Nagi, Ubud, Bali, Selasa (8/3/2016). Para pemuda saling melempar bara api dari sabut kelapa di hari pengerupukan, sehari sebelum melaksanakan bratha penyepian. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Bali merupakan rumah dari tradisi-tradisi kuno.

Lestarinya berbagai tradisi, bahkan yang ekstrim sekali pun, hal ini disebabkan balutan nilai kerohanian di dalamnya.

Satu di antara tradisi ekstrim tersebut adalah perang api.

Mulai dari penggunaan simbol-simbol hingga waktu dilaksanakannya perang api, tidak dibuat asal-asalan oleh para leluhur kita.

Namun ada nilai-nilai kehidupan yang sangat mendalam.

Berdasarkan ajaran agama Hindu, api memiliki dua pemahaman.

Yakni api nafsu dan api yang bersifat pengetahuan atau jnana.

Sesungguhnya tradisi perang api di Bali bukan untuk menyakiti teman yang diajak berperang.

Melainkan untuk melemparkan atau memusnahkan nafsu, dan digantikan oleh api jnana untuk menuntun kehidupan kita pada arah yang lebih baik.

Meskipun tradisi ini tidak tercantum dalam Weda. Namun perang api ini dibenarkan oleh Weda.

Sebab, tradisi pada dasarnya ada tiga.

Yakni, tradisi yang bersumber dari Weda, tradisi yang tidak lahir dari weda tetapi menguatkan ajaran weda, dan tradisi yang tidak lahir dari weda tetapi sekaligus merusak nilai weda.   

Maka dari itu, tradisi perang api dapat dikatakan sebagai tradisi yang tidak bersumber dari Weda, tetapi menguatkan ajaran weda.

Hal itu terlihat dari simbol-simbol yang digunakan dalam perang api.

Ketika tradisi itu digelar, bahan untuk menyulut api tidak terlepas dari pohon kelapa.      

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved