Dharma Wacana

Ekstrimnya Tradisi Perang Api, Ternyata Ini Maknanya!

Sesungguhnya tradisi perang api di Bali bukan untuk menyakiti teman yang diajak berperang.

Tribun Bali/ I Nyoman Mahayasa
Sejumlah Pemuda melaksanakan siat api (perang Api) di depan bale banjar Desa Pekraman Nagi, Ubud, Bali, Selasa (8/3/2016). Para pemuda saling melempar bara api dari sabut kelapa di hari pengerupukan, sehari sebelum melaksanakan bratha penyepian. 

Baik itu sabut kelapa, pelepah maupun daunnya.

Dalam Lingga Pranala yang terdapat dalam kisah Kurawa Srama dan lontar Siwa Gama, pohon kelapa merupakan pohon yang tumbuh dari kepala Bhatara Brahma.

Sementara, kalau berbicara mengenai api, dalam purana atau tepatnya pada kisah Adi Parwa, disebutkan bahwa Bhatara Brahma merupakan dewanya api.          

Maka dengan demikian, dapat diartikan bahwa tradisi tersebut memasukkan unsur-unsur Brahma dalam mengusir api nafsu dalam diri manusia.

Kita ketahui bersama, tradisi perang api biasanya dilakukan menjelang Hari Raya Nyepi atau ketika sasih kesanga.

Berdasarkan perhitungan kosmologi Hindu, saat sasih kesanga, matahari berada di selatan dan bulan tertutup secara penuh, sehingga dunia menjadi gelap.

Dan, masa kegelapan merupakan masa kebangkitan hawa nafsu.

Jadi, perang api yang dilakukan pada sasih kesanga, memiliki makna memerangi api nafsu, dan membangkitkan api jnana. (*)

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved