Jembatan Cinta Nusa Lembongan Putus
Jembatan Cinta Itu Tersambung Kembali, Hari Ini Melaspas Bertepatan Tilem Sasih Kawulu
Setelah sekian kali molor, pengerjaan jembatan kuning atau yang populer dengan sebutan jembatan cinta akhirnya rampung.
Penulis: Eka Mita Suputra | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Langit berwarna kuning keemasan dan matahari yang mulai terbenam secara perlahan tampak sangat indah dari atas jembatan kuning atau yang dikenal juga dengan sebutan jembatan cinta yang menghubungkan Pulau Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan, Klungkung, Bali, Jumat (24/2/2017).
Setelah sekian kali molor, pengerjaan jembatan kuning atau yang populer dengan sebutan jembatan cinta akhirnya rampung.
Pihak Desa Pakraman Lembongan pun berencana mengadakan ritual pemelaspas alit dan pecaruan alit yang akan dilaksanakan bertepatan dengan Tilem Sasih Kawulu, Sabtu (25/2/2017).
Senyum terpancar dari beberapa anak-anak di Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan, kemarin.
Material runtuhan jembatan kuning yang menjadi sisa tragedi duka 16 Oktober 2016, tidak lagi tampak di areal tersebut.
Anak-anak sekolah dan warga di Nusa Lembongan dan Ceningan, dalam waktu dekat tidak lagi repot menyeberang dengan jasa sampan.
Setelah 4 bulan menanti, jembatan kuning yang selama ini menjadi harapan mereka akhirnya rampung dikerjakan.
Jembatan yang sempat ambruk dan menyebabkan 8 korban jiwa tersebut, kini tampak tampak lebih kokoh karena menggunakan pelat baja.
Meskipun telah dinyatakan rampung dikerjakan, namun belum tampak satupun warga yang melintas di sana.
Warga justru tampak sibuk menyiapkan berbagai sarana upacara di Pulau Lembongan, tepatnya di sisi barat Jembaran Kuning.
Warga mendirikan penjor, dan memasang kain putih-kuning di beberapa pelinggih, untuk persiapan ritual pemelaspas alit dan pecaruan alit.
Bendesa Pakraman Lembongan, I Wayan Sukadana ketika ditemui di sekitar jembatan kuning menjelaskan, setelah proyek jembatan kuning selesai dikerjakan, pihak Desa Pakraman sudah menyiapkan ritual pemelaspas dan pecaruan alit.
Ritual ini dimaksudkan untuk mengharmoniskan kembali situasi dan kondisi di jembatan kuning pasca ambruk pada Oktober 2016 lalu.
Sehingga, jembatan yang selama ini banyak dijadikan ikon di media sosial tersebut, kembali bisa difungsikan dengan baik.
Selain itu, Sukadana menjelaskan, ritual pemelaspas alit dan pecaruan alit juga dimaksudkan untuk menjaga kesakralan dan kesucian kawasan pantai, di mana jembatan itu berada.
“Melalui ritual tersebut, kami juga memohon izin secara niskala agar diizinkan menggunakan kembali jembatan kuning. Semoga semuanya berjalan dengan baik, dan tidak ada halangan lagi,” ujar Wayan Sukadana.
Ritual pemelaspas dan pecaruan alit di jembatan kuning rencananya mempergunakan sarana banten pecaruan eka sata yang akan dipuput oleh Jro Mangku desa setempat.
Setelah digelar pemelaspas dan pecaruan alit, pada 31 Maret mendatang kembali akan digelar ritual yang lebih besar yakni Tawur Labuh Gentuh, Pemarisuda Jagat Kertih dan Samudra Kertih.
Upacara ini merupakan salah satu upacara dengan tingkatan utama (besar).
“Prosesi upacara akan diikuti persembahyangan bersama oleh warga dan prajuru. Kami berharap dengan ritual ini, secara sekala dan niskala dapat sinkron. Jika dilihat dari sisi sekala, kita bersyukur pembangunan jembatan kuning sudah selesai dikerjakan, dan secara niskala-nya hal ini perlu diikuti dengan upacara pembersihan (tawur),” kata Sukadana.
Diberitakan sebelumnya, jembatan kuning penghubung Nusa Ceningan dan Lembongan ambruk, Minggu (16/10/2017) sekitar pukul 18.45 Wita.
Robohnya jembatan yang mendapat julukan Jembatan Cinta ini, menyebabkan delapan korban jiwa.
Sebagian besar korban berasal dari Desa Lembongan, Desa Jungutbatu dan seorang berasal dari Desa Kutampi.
Selain korban jiwa, peristiwa ini juga mengakibatkan puluhan orang luka-luka.
Karena termasuk vital, pemerintah pusat melalui Balai Pelaksana Jalan Nasional Wilayah VIII kembali membangun jembatan kuning.
Pembangunan kembali jembatan kuning menelan anggaran hingga Rp 3,4 miliar yang seluruhnya dibebankan pada APBN.
Jembatan kuning tetap berkonsep jembatan gantung, hanya saja, jembatan dibuat lebih permanen dan lebih lebar.
Pelat lantai jembatan yang dahulunya terbuat dari kayu, diubah memakai pelat baja.
Sementara panjang jembatan 140 meter, dan lebar jembatan ditambah dari sebelumnya selebar 1,4 meter menjadi 1,8 meter.
Sebelum dinyatakan rampung, pengerjaan jembatan tersebut sempat beberapa kali molor karena faktor cuaca, dan pasang surut air laut yang membuat sulitnya mobilisasi material ke lokasi proyek. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/jembatan-kuning_20170225_104456.jpg)