Raja Arab Saudi Liburan ke Bali
Seorang Pedagang WNI Juga Ikut Rencanakan Serang Keluarga Raja Salman Dengan Bom Mobil
“Situasi keamanan di Bali sejauh ini masih aman terkendali, kendati kita tidak boleh mengurangi tingkat kewaspadaan,” imbuh Hengky.
Penulis: I Dewa Made Satya Parama | Editor: Eviera Paramita Sandi
TRIBUN-BALI.COM, KUALA LUMPUR – Kepolisian Malaysia mengungkapkan kemarin bahwa pihak telah menangkap 7 tersangka teror pada akhir Februari lalu, hampir bersamaan waktunya dengan kedatangan pemimpin Arab Saudi, Raja Salman bin Abdulaziz al Saud, ke negara itu.
Ketujuh orang itu berencana menyerang keluarga kerajaan Arab Saudi.
"Mereka awalnya berencana menyerang keluarga kerajaan Arab Saudi selama kunjungannya ke Kuala Lumpur. Namun, kami berhasil menangkap mereka tepat waktu," kata Kepala Kepolisian Diraja Malaysia, Tan Sri Khalid Abu Bakar, kepada wartawan di Kuala Lumpur, Selasa (7/3/2017).
Penggerebekan atas tujuh tersangka teror itu dilakukan dalam operasi penggerebekan terpisah yang dilakukan mulai 21 Februari hingga 26 Februari di wilayah Klang Valley dan Selangor.
Baca: Koper Ungu Dibawa Wanita Yang Ngaku Kanjeng Ratu Hamengku Buwono Untuk Raja Salman di Nusa Dua
Raja Salman mengunjungi Malaysia pada 26 Februari hingga 1 Maret 2017 sebagai bagian dari tur-nya selama sebulan ke Asia.
Sejak 4 Maret lalu dan diperkirakan hingga 12 Maret nanti, Raja Salman berada di Bali untuk berlibur.
Dua dari tujuh orang yang ditangkap tersebut berencana melancarkan serangan skala besar dengan bom mobil atau VBIED (Vehicle-Borne Improvised Explosive Device).
Kedua tersangka yang merencanakan bom mobil itu adalah seorang warga Malaysia berusia 41 tahun yang bekerja sebagai teknisi pabrik; serta seorang pedagang warga negara Indonesia (WNI) yang berusia 28 tahun.
Menurut sumber-sumber yang dikutip thestar.com, militan Indonesia itu (yang ahli dalam merakit bom), menerima perintah dari pentolan militan bernama Mohammad Wanndy Jedi di Suriah untuk merakit bom mobil.
“Polisi terus memantau militan asal Indonesia itu sejak dia masuk Malaysia pada 18 Februari. Dia ditangkap bahkan sebelum dia berhasil mengumpulkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk merakit bom mobil,” kata sumber thestar.com.
Diketahui bahwa rencana pengeboman itu digagalkan karena terputusnya komunikasi dengan Mohammad Wanndy lewat media sosial dan berkat tindakan cepat dari kepolisian Malaysia.
Tan Sri Khalid Abu Bakar mengatakan tersangka warga Malaysia dan WNI itu telah ditahan di sejak 21 Februari lalu.
“Mereka telah diperintahkan untuk menyiapkan bom mobil skala besar untuk serangan-serangan di Malaysia sebelum kabur ke Suriah untuk gabung kelompok teror ISIS. Pria tersangka dari Indonesia sebelumnya telah dideportasi dari Turki pada Juni 2016 setelah mencoba masuk ke Suriah secara ilegal,” kata Khalid Abu Bakar.
Sementara itu, empat tersangka lainnya merupakan warga Yaman yang terkait dengan kelompok pemberontak Houthi. Untuk diketahui, selama dua tahun terakhir, pemberontak Houthi berperang melawan pasukan pemerintah Yaman yang didukung oleh koalisi militer pimpinan Arab Saudi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/tni_20170304_162053.jpg)