Klungkung Jadi Kabupaten dengan Jumlah Pustaka Lontar Tertinggi di Bali
Lontar yang tersebar di masyarakat kondisinya pun beragam, sebagian masih bagus (bisa terbaca), namun banyak juga lontar yang kondisinya tidak terawat
Penulis: Eka Mita Suputra | Editor: I Gusti Agung Bagus Angga Putra
TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Kabupaten Klungkung yang selama ini dikenal sebagai pusat pemerintahan di zaman kerajaan, mewariskan peninggalan pustaka berupa lontar yang tersebar di masyarakat.
Berdasarkan identifikasi petugas penyuluh bahasa Bali dan Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olah Raga Klungkung, hingga Februari 2017 di Klungkung berhasil teridentifikasi sekitar 2.103 lontar yang tersebar di 4 Kecamatan di Klungkung.
Menurut Kadisbud Klungkung I Nyoman Mudarta, jumlah tersebut merupakan yang paling tinggi dibandingkan daerah lainnya di Bali.
“Menurut informasi penyuluh bahasa Bali, sampai saat ini jumlah koleksi lontar di Klungkung paling banyak dari pada daerah lainnya di Bali,” ujar I Nyoman Mudarta beberapa waktu lalu.
Jenis lontar yang tersebar di Klungkung sebagian besar disimpan di sejumlah geriya yang tersebar di Klungkung, dan sebagian disimpan oleh masyarakat umum.
Ia menyebutkan, di Geriya Intaran Tihingan sedikitnya ada 40 koleksi lontar yang diidentifikasi oleh penyuluh bahasa Bali. Sementara, di Geriya Gde Aan tim penyuluh bahasa Bali mampu mengidentifikasi sedikitnya 60 koleksi lontar.
“Jenis lontarnya pun sangat bervariatif, ada kelompok lontar usada (pengobatan), lantar tatwa, lontar terkait dengan upakara dan lontar yang berhubungan dengan ilmu kepemimpinan. Bahkan, di Geriya Gde Intaran menurut pemiliknya ada sebuah lontar ‘ajaib’ kadang muncul kadang hilang dengan sendirinya,” Ucap Mudarta.
Mudarta menjelaskan, banyak kesulitan yang dialami oleh staf Dinas Kebudayaan maupun penyuluh bahasa Bali untuk mengidentifikasi lontar-lontar yang ada di Klungkung.
Menurutnya banyak pemilik lontar yang tidak memberikan izin lontar miliknya dibersihkan ataupun dibaca. Sebagian besar mereka beralasan karena lontar tersebut disakralkan, bahkan parahnya pemilik lontar tidak tahu dan juga tidak pernah membaca lontar yang disakralkannya.
Lontar yang tersebar di masyarakat kondisinya pun beragam, sebagian masih bagus (bisa terbaca), namun banyak juga lontar yang kondisinya tidak terawat bahkan ada pula yang sudah rusak. Banyak lontar yang tali pengikatnya lepas dan bahkan ada lontar yang bagiannya sudah tidak utuh lagi.
“Kebanyakan pemilik lontar tidak tahu bagaimana cara merawat lontar tersebut. Jika lontar itu tidak pernah dibuka, dan tidak pernah dibuka justru akan cepat rusak. Kalau sudah rusak, bagaimana kita bisa mewariskan ilmu itu kepada generasi berikutnya. Lontar itu tidak ubahnya sebagai sebuah ilmu pengetahuan. Tidak saja terdapat ilmu di dalamnya, ada juga ajaran etika juga,” terang Mudarta. (*)
Info ter-UPDATE tentang BALI, dapat Anda pantau melalui:
Like fanpage >>> https://www.facebook.com/tribunbali
Follow >>> https://twitter.com/Tribun_Bali
Follow >>> https://www.instagram.com/tribunbali
Subscribe >>> https://www.youtube.com/Tribun Bali
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/penyuluh-bahasa-bali-sedang-mengidentifikasi-koleksi-lontar-di-geriya-manduang-klungkung_20170312_111140.jpg)