Hari Raya Nyepi
Ada yang Lain? Pinggang, Mata dan Leher Ogoh-ogoh Ini Bergerak Bak Penari Jika Ada Suara Gambelan
Tidak jauh dari para penabuh, ada pemandangan unik, empat ogoh-ogoh yang dinamakan Garuda Rijasa bergerak seperti seorang penari.
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Suara gambelan dan kendang bertalu terdengar di wantilan Balai Banjar Kaja, Desa Panjer, Denpasar Selatan, Bali.
Tidak jauh dari para penabuh, ada pemandangan unik, empat ogoh-ogoh yang dinamakan Garuda Rijasa bergerak seperti seorang penari.
Ogoh-ogoh ini bergerak sendiri dengan bantuan alat sensor frekuensi yang dikendalikan anggota ST Dharma Laksana.
Ogoh-ogoh ini ada yang bergerak pada bagian pinggang ogoh-ogoh, ada pada mata, leher layaknya penari.
"Jadi begitu tawa-tawa (gambelan Bali) dimainkan, sensor frekuensi suara akan merekam. Apabila bunyi gambelan dengan frekuensi, dan ketukan yang telah di seting sebelumnya sama dengan yang gambelan yang dibawakan, maka ogoh-ogoh akan bergerak," jelas Made Dwi Krisna Putra Sugiarta, anggota ST Dharma Laksana, pencetus ide ogoh-ogoh menari dengan teknologi frekuensi suara ini, Rabu (15/3/2017).
Apabila pada saat pangrupukan nanti ada suara bising, termasuk suara gambelan dari ST lain yang berdengung di sekitar ogoh-ogog Geruda Rijasa ini, kata Dwi, sensor tidak akan terpengaruh.
Sebab, meskipun alat-alat gambelannya sama, namun ketukan pada setiap gambelan bleganjur biasanya berbeda-beda.
Itu sebabnya, Geruda Rijasa yang terdiri dari Naga Basuki, Ananta Boga, Taksaka, dan Garuda, itu hanya bisa digerakkan oleh tetabuhan bleganjur dari ST Dharma Laksana.
"Jangankan pakai gambelan lain, menggunakian gambelan sama tapi ketukan berbeda pun ogoh-ogoh tidak bisa bergerak," jelas Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Universitas Udayana.
Kepada Tribun Bali, Dwi menceritakan dirinya dan kawan-kawan ST Dharma Laksana bersemangat membuat inovasi baru lantaran tahun 2016, ada pihak lain yang meledek karya ogoh-ogoh mereka yang menggunakan sensor bluetooth.
Tahun 2016, ST Dharma Laksana ini membuat ogoh-ogoh yang dapat digerakkkan melalui smartphone berbasis android.
"Waktu itu banyak yang meledek kami. Ini ogoh-ogoh apa robot? Kalau ogoh-ogoh, ya ogoh-ogoh. Lomba ogoh-ogoh atau lomba robot?," kata Dwi.
Ogoh-ogoh mereka tahun lalu juga sempat diberikan penghargaan oleh Wali Kota Denpasar, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra, dan mendapatkan juara 3 dalam lomba ogoh-ogoh se-Kota Denpasar.
Ketua ST Dharma Laksana, I Putu Gede Susantana menambahkan, adanya keinginan untuk membuat sebuah inovasi dalam ogoh-ogoh yang mereka buat lantaran anggota ST Dharma Laksana ada yang kuliah di Teknik Elektro, dan ada yang bekerja di bidang teknik mesin.
Itulah sebabnya, ST Dharma Laksana ingin memanfaatkan potensi anggota ST.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ogoh-ogoh-di-balai-banjar-kaja_20170316_111723.jpg)