Krama Bali Terkena Meningitis Babi

19 KK Dipantau setelah Makan Olahan Babi

Dalam kegiatan ini, petugas melangsungkan penyemprotan di sejumlah kandang babi di rumah korban suspect MSS dengan radius sekitar 1 Km.

Penulis: I Gede Jaka Santhosa | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Tribun Bali/I Wayan Eri Gunarta/Prima
Hidangan babi guling 

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA - Meluasnya kasus penyakit Meningitis Streptococcus Suis (MSS) atau meningitis babi hingga ke Jembrana membuat sejumlah instansi di sana kalang kabut.

Instansi terkait, yakni Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar bersama Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, langsung menyisir sejumlah babi di Banjar Puseh, Desa Tuwed, Kecamatan Melaya guna mengantisipasi adanya kasus susulan yang diduga akibat bakteri MSS ini.

Dinas Pertanian dan Pangan Pemkab Jembrana melangsungkan penyisiran terhadap babi yang diduga terjangkit MSS sejak Kamis (16/3/2017) sore.

Dalam kegiatan ini, petugas melangsungkan penyemprotan di sejumlah kandang babi di rumah korban suspect MSS dengan radius sekitar 1 Km.

Selain penyemprotan dengan desinfektan di areal kandang babi milik korban dan warga lainnya, petugas juga melangsungkan penyuntikan antibiotik kepada babi-babi yang dicurigai terjangkit bakteri MSS ini.

Keesokan harinya, barulah tim dari BBVet Denpasar ke lokasi guna mengambil sampel darah dan feses sejumlah babi di rumah korban suspect MSS.

Bahkan, petugas juga sempat mengambil sampel darah dan feses sejumlah babi yang diduga terinfeksi MSS di Banjar Jati, Desa Baluk, Kecamatan Negara usai mendapatkan laporan dari warga dan instansi terkait di Jembrana.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Pemkab Jembrana, I Ketut Wiratma membenarkan pihaknya bersama BBVet Denpasar telah menyisir sejumlah babi, yang ada di dua lokasi tersebut guna mengantisipasi meluasnya dugaan kasus MSS yang baru terungkap pada Kamis lalu.

Dari penyisiran tersebut, pihaknya tak mendapati adanya babi warga yang menunjukkan gejala-gejala mengarah ke MSS.

Menurutnya, saat ini populasi babi jenis landrace di Kabupaten Jembrana mencapai sekitar 50.000 ekor dan jumlah babi jenis silangan (sadleback) diperkirakan mencapai 55.000 ekor.

Sedangkan untuk jenis babi Bali hingga saat ini belum terdata secara pasti, mengingat babi jenis ini jarang diternakkan dan hanya dipelihara oleh sejumlah warga di pedesaan.

Ia menghimbau kepada masyarakat yang beternak babi agar lebih telaten dan tanggap memelihara ternaknya.

Begitu pula bagi warga yang mengolah atau mengkonsumsi masakan dari daging babi disarankan untuk memasak matang-matang agar bakteri yang ada di Babi bisa hilang.

Terakhir, jika terdapat babi yang sakit dengan ciri-ciri tidak mau makan, pincang pada organ geraknya dan cenderung menyendiri agar segera melaporkannya ke petugas terkait.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Pemkab Jembrana, dr I Putu Suasta mengatakan hingga saat ini pihaknya menunggu hasil uji lab sampel darah korban yang diduga terjangkit MSS tersebut.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved