Margo Wening, Pura Pertama di Sidoarjo, Impian Mbah Untung pun Terwujud   

Kelak, anak keturunan Mbah Untung pula yang banyak berperan meneruskan perjuangannya merawat pura yang terletak sekitar 16 Km di barat daya Sidoarjo

Penulis: Sunarko | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Tribun Bali/Sunarko
Pura Margo Wening 

“Nah, suatu hari bapak ingin mencari tahu apa wadah bagi penganut aliran Kejawen yang dijalaninya. Sebab, ajaran Kejawen itu diwarisinya dari orangtua, mbah-mbahnya dan leluhurnya, sehingga bapak saya yakin tentu tidak hanya dirinya yang menganut ajaran ini. Dari pencarian itu, akhirnya ketemulah bahwa sebetulnya apa yang dijalani bapak waktu itu adalah ajaran Hindu. Sejak itu, bapak kemudian secara resmi menyebut sebagai penganut Hindu,” kata Ida Romo Pandito Eko Dwijo Putra Keniten, anak ketiga Mbah Untung yang kini melinggih atau menjadi pandita di Pura Margo Wening.

Pendirian Pura Margo Wening dimulai sejak tahun 1977.

Akan tetapi, situasi dan kondisi saat itu tidak mudah untuk mewujudkan ide tersebut ke dalam kenyataan.

Proses pembangunan menghadapi kendala baik internal maupun eksternal.

Apalagi, kebutuhan akan biaya pembangunan tentu juga tidak kecil, padahal Mbah Untung adalah petani biasa.

Bersama sejumlah kecil warga lokal Krembung yang juga beragama Hindu, bahan-bahan bangunan dikumpulkan sedikit demi sedikit oleh Mbah Untung, termasuk membuat batu-bata sendiri.

Edi mengetahui sendiri bagaimana jerih-payah dan perjuangan ayahnya merintis pura.

Suatu ketika, Edi yang masih bocah belasan tahun duduk bersila di teras rumahnya, bersemedi di tengah keprihatinannya atas kesulitan-kesulitan yang dihadapi keluarganya dalam mewujudkan pura.

Ada yang menganggapnya dengan sinis.

Namun, sang ayah Mbah Untung memintanya untuk terus bersabar, sampai kemudian Edi merasa mendapatkan energi ekstra untuk pantang menyerah dalam turut membantu perjuangan sang ayah dalam mewujudkan berdirinya pura.

“Pernah suatu kali ketika keluarga kami merasa sudah sedemikian berat untuk mewujudkan pura ini, bapak lantas berujar begini kepada saya ‘wis to ngger, ojo gupuh. Mengko ono pitulungan dulur saka wetan (sudahlah nak, gak usah panik. Nanti ada saudara kita dari timur yang akan menolong). Dan astungkara, perkataan bapak saya itu benar-benar menjadi kenyataan,” tutur Edi, kini berusia 52 tahun, sembari menyebut ayahnya memiliki daya linuwih, semacam indera keenam, sehingga oleh warga setempat dipanggil dengan sebutan “mbah” di depan namanya.

Saudara dari timur itu kemudian ternyata adalah saudara seagama dari Pulau Bali.  Akhirnya memang ada warga Hindu Bali yang kebetulan ditugaskan menjadi pejabat di Sidoarjo, dan mereka cukup banyak membantu pembangunan pura menjadi berjalan lancar.

Pada 1 Juni 1991 atau setelah 14 tahun sejak idenya muncul, hadirnya pura yang dinanti-nantikan itu akhirnya terwujud, dan diresmikan oleh Bupati Sidoarjo saat itu Edi Sanyoto.

“Saat itu namanya masih Pura Jagat Natha Margo Wening. Bisalah dibilang Mbah Untung yang melinggih pertama, namun belum ada upacara sebagaimana semestinya (seorang sulinggih) karena kondisi saat itu belum siap untuk melaksanakan upacara,” kata Ida Romo Pandito Eko Dwijo Putra Keniten.

Seiring waktu berjalan, Pura Margo Wening yang merupakan satu-satunya pura di Kabupaten Sidoarjo pada saat itu, makin dikenal.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved