Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Pedagang Keluhkan Penjualan Buah Yang Malah Menurun di H-1 Galungan

Pasalnya, ditengah naiknya harga-harga kebutuhan pokok menjelang hari raya, harga buah justru tidak mengalami dampak.

Tayang:
Editor: Eviera Paramita Sandi
Tribun Bali / Muhammad Fredey Mercury
Ketut Wati menunggu pembeli buah ditengah sepinya pasar 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Muhammad Fredey Mercury

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Hikmah jelang hari raya Galungan yang akan segera tiba, agaknya kurang dirasakan bagi pedagang buah.

Pasalnya, ditengah naiknya harga-harga kebutuhan pokok menjelang hari raya, harga buah justru tidak mengalami dampak.

Bahkan tergolong sepi pembeli.

Hal ini diungkapkan oleh Ni Ketut Wati, salah seorang pedagang buah di sebelah timur pasar kidul.

Wati yang membuka kiosnya mulai dari pukul 04.00 Wita hingga pukul 17.00 Wita mengeluhkan penjualan buah mendekati hari raya Galungan semester pertama ini justru menurun dari tahun lalu, padahal sebelumnya untuk penjualan buah menjelang hari raya justru ramai.

"Hari raya ini justru sepi pembeli, berbeda dengan 6 bulan yang lalu. Kalau 6 bulan lalu, dari buka jam 4 pagi sampai jam 7 malam saya masih saja melayani pembeli, kalau sekarang, jam 11 saja sudah sepi pasarnya," ungkap Wati saat ditemui Tribun Bali pada hari Selasa (4/4/2017).

Sepinya pembeli buah-buahan menurut Wati dikarenakan hari raya yang jatuhnya saling berdekatan.

Antara hari raya Nyepi (28/3/2017), Galungan (5/4/2017), dan Kuningan (15/4/2017).

"Itupun belum ditambah Karya Ngusaba di beberapa tempat. Pastinya pengeluaran masyarakat semakin banyak," ujarnya.

Wati mengatakan, bahwa sepinya penjualan buah, ternyata tidak hanya dirasakan olehnya saja.

Banyak pula pedagang musiman yang menjual buah ikut terkena dampak sepinya pembeli.

Dikatakan pula, untuk menyiasati sepinya pembeli, Wati harus rela mendapat sedikit keuntungan, daripada dirinya harus merugi.

"Daripada dia (Pembeli - red) lari, lebih baik saya mendapat sedikit untung mas," tuturnya.

"Untuk buah sendiri yang paling cepat habis adalah salak, karena itu yang paling murah, harganya Rp. 15 Ribu per kilo, sementara yang lain hanya sedikit laku," ucapnya.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved