Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Ancaman Intoleransi Kian Mengkhawatirkan, Forum Lintas Agama Bali Desak DPRD Turun Ke Masyarakat

GRAK menilai bahwa intoleransi dan perpecah belahan ‎di Indonesia bukan lagi sebuah penangkalan, tapi sudah berada di depan mata masyarakat Indonesia.

Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana | Editor: Ady Sucipto
Tribun Bali/I Made Ardhiangga Ismayana
Kelompok masyarakat lintas agama, ras dan golongan di Bali, yang menamakan diri dalam Gerakan Anti Radikalisme (GRAK) melakukan audiensi dengan DPRD Provinsi Bali, Rabu (31/5/2017). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kelompok masyarakat lintas agama, ras dan golongan di Bali, yang menamakan diri dalam Gerakan Anti Radikalisme (GRAK) melakukan audiensi dengan DPRD Provinsi Bali, Rabu (31/5/2017) siang ini.

GRAK menilai bahwa intoleransi dan perpecah belahan ‎di Indonesia bukan lagi sebuah penangkalan, tapi sudah berada di depan mata masyarakat Indonesia.

Oleh karena itu, kelompok GRAK meminta DPRD Bali bergerak cepat untuk melakukan gerakan turun ke masyarakat dan juga lembaga pendidikan.‎

Bukan hanya itu, dari TNI/Polri dan seluruh elemen masyarakat Bali untuk menjadi pioner gerakan membasmi paham Radikalisme dan intoleranisme.

Ketua DPRD Bali, Nyoman Adi Wiyatama menyatakan, dengan informasi bahwa perpecah belahan sudah di depan mata memang sudah menjadi bahasan serius di rumah rakyat kawasan Renon, Denpasar ini.

Dan mengenai gerakan radikalisme dan intoleran yang berada di kampus-kampus umum (menyebarkan paham radikal), maka akan dilakukan penangkalan sejak hari ini.

"Kami akan meminta Pemerintah Bali serius dan tanggap terhadap hal ini. Dan kami akan memanggil pengurus seluruh kampus di ‎Bali," ucapnya, Rabu (31/5/2017).

Dalam pertemuan ini, kelompok GRAK diterima I Nyoman Adi Wiryatama (Ketua DPRD Bali), I Ketut Tama Tenaya (Ketua Komisi I DPRD Bali/F-PDIP) dan AA Ngurah Adhi Ardhana (Anggota Komisi II DPRD Bali/F-PDIP)‎.

Pemanggilan itu sendiri, sehubungan dengan identifikasi dari kelompok GRAK, yang ternyata gerakan radikal dan intoleran itu tidak lagi menyasar di kampus-kampus yang notabenenya berbasis agama. ‎

Melainkan, gerakan itu menyasar kampus-kampus umum.

Alasan utamanya, kampus-kampus umum lebih mudah untuk menyebarkan pemahamannya, dan tidak mudah terdeteksi.

Berbeda halnya, ketika di kampus berbasis agama, yang mahasiswanya lebih tahu dan sadar mengenai pemahaman agama yang dijejalkan oleh kelompok radikal.

Adi Wiryatama mengaku, bahwa peperangan terhadap radikalisme dan intoleran itu bukan lagi menyoal mengenai terorisme.

Akan tetapi, menyangkut dengan penggulingan negara Indonesia. Karena itu, gerakan dari kelompok GRAK ini bukan hanya gerakan kelompok.

Namun, merupakan gerakan masyarakat Bali, yang akan menjadi gerakan masyarakat Indonesia menghancurkan gerakan-gerakan radikal.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved