Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Mengharukan, Jero Mangku Candra Diaben di Hari Otonannya dengan Tumpang Salu

Ratusan masyarakat dan sejumlah tokoh masyarakat turut menyaksikan proses kremasi pria yang dikenal sebagai seniman sederhana itu.

Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Tribun Bali/I Nyoman Mahayasa
Ucapan bela sungkawa atas meninggalnya Jero Mangku Candra di lokasi pemakaman, Setra Sesetan, Senin (5/6/2017) 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Proses kremasi jenazah Mangku Candra di Setra Sesetan, Denpasar, Senin (5/6/2017) masih berlangsung hingga sore pukul 15.00 wita.

Ratusan masyarakat dan sejumlah tokoh masyarakat turut menyaksikan proses kremasi pria yang dikenal sebagai seniman sederhana itu.

Baca: Mengigau Sebelum Meninggal, Ternyata Ucapan Jero Mangku Candra Nyata, Pragat Usai Otonan Sang Cucu

Baca: Balian Keteg Bunuh Satu Keluarga dengan Sianida Jenis Potasium, Diprediksi Eksekusi Mati Tahun Ini

Mangku Candra meninggal pada Sabtu (3/6/2017) setelah upacara otonan cucunya selesai.

Jero Mangku Candra hanya menitipkan pesan kepada anak bungsunya bahwa nanti (jenazahnya)  jangan terlalu lama dititipkaan di rumah lebih cepat lebih baik.

Proses kremasi jenazah Mangku Candra di Setra Sesetan, Denpasar, Senin (5/6/2017) masih berlangsung hingga sore pukul 15.00 wita.
Proses kremasi jenazah Mangku Candra di Setra Sesetan, Denpasar, Senin (5/6/2017) masih berlangsung hingga sore pukul 15.00 wita. (Tribun Bali/I Wayan Erwin Widyaswara)

Anak ketiga dari alm Jero Mangku Candra, Komang Indra Wirawan (32) mengatakan, hari ini upacara ngaben juga pas hari jadi otonan (hari ulang tahun dalam Bali) beliau.

Sebelumnya diberitakan,Komang Indra Wirawan menceritakan kronologi meninggal ayahnya dimulai tiga bulan lalu ketika ayahnya menderita penyakit herves (tilas naga).

Dengan segala upaya akhirnya ayahnya bisa sembuh.

Ketika almarhum mendapatkan kesembuhan, dua minggu sebelum kematiannya almarhum selalu berbicara secara niskala ingin pulang.

Kerabat dekatnya didatangi di alam niskala atau melalui mimpi, diajak ngobrol dan berbicara ingin pulang.

“Ada kerabatnya dimintai di dunia niskala diberikan spidol dan kain, diminta gambarkan saya kajang. Bahkan ketika lima hari lalu oleh orang kepercayaan beliau (almarhum) dibuatkan video ketika beliau (alm) tertidur sambil ngigau ingin pulang (ke Ida Sang Hyang Widhi Wasa),” ujar Komang Indra.

Saat almarhum divideokan juga mengatakan empat hari lagi setelah otonan cucu natab akan pragat (selesai) semua.

Tetapi para keluarga dan anak-anaknya tidak ada yang memiliki firasat akan ditinggalkan.

“Beliau gak pernah mengatakan akan meninggal cuma mengatakan suba pragat (sudah selesai). Beliau hanya meminta dibuatkan pengabenan dengan tumpang salu (tempat tidur jenazah dibuat dari bambu gading). Beliau gak ingin dibuatkan lembu bade wadah atau lainnya. Maka prosesi ngabennya dinamakan Prenawa Agung, tidak kecil gak besar gak, wadah sama lembu gak pakai,” jelasnya.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved