Bocah 2,5 Tahun Putu Adityawan Mengidap Tumor Mata Stadium Lanjut, Awalnya Dikira Panas Biasa
Ketut Apriana (25), ayah Adityawan mengatakan, penyakit tumor mata yang diderita anaknya bukan bawaan dari lahir atau masih dalam kandungan.
Laporan Wartawan Tribun Bali, Hisyam Mudin
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Saat itu Putu Adityawan (2,5) mengalami panas, dokter mengira bocah ini sakit panas sehingga dokter memberikan obat penurun panas.
Namun tidak berselang lama mata Putu membengkak, hingga akhirnya dokter memvonisnya menderita tumor mata stadium lanjut.
Putu Adityawan kemarin terlihat tenang dalam pangkuan neneknya, Ni Ketut Ceruring (43).
Mereka menunggu antrean di ruang tunggu RSUP Sanglah, Denpasar, Bali, Senin (3/7/2017).
Sayangnya, bocah yang divonis mengidap tumor mata sebelah kiri stadium lanjut ini belum mendapatkan kamar.
Ketut Apriana (25), ayah Adityawan mengatakan, penyakit tumor mata yang diderita anaknya bukan bawaan dari lahir atau masih dalam kandungan.
Namun, penyakit tersebut diketahui setelah dilakukan pemeriksaan di RSUD Klungkung.
Dia menceritakan, gejala awalnya, saat itu Adityawan sakit panas di seluruh badan sehingga dibawa ke klinik terdekat.
Dokter langsung memberikan obat penurun panas, karena mengira sakit panas.
Selang beberapa hari, panasnya turun, namun matanya malah gatal dan merah sehingga keluarga kembali melakukan pemeriksaan pada matanya.
Setelah dicek, baru hasilnya Adityawan mengidap penyakit katarak.
Tak lama kemudian, sakit mata Adityawan semakin parah.
Matanya dilaporkan mengalami keputihan dan bengkak.
"Karena matanya bengkak, kami cek ke RSUD Klungkung. Setelah dicek baru diketahui tumor pada matanya," terang Apriana.
Apriana, pria asal Pikat, Klungkung mengatakan, hampir 4 bulan tumor mata dengan stadium lanjut diidap buah hatinya. Sebelumnya, Adityawan dirawat di RSUD Klungkung.
Namun karena penyakit tumor mata Adityawan bertambah parah, ia dirujuk ke RSUP Sanglah, Denpasar untuk mendapatkan penanganan lebih intensif.
"Rencananya mau dirawat inap. Karena di surat rujukan Adityawan harus dirawat inap. Pemeriksaan sudah dilakukan. Namun kamar rawat inap untuk anak penuh, jadi kami pulang ke rumah dulu. Katanya pihak rumah sakit nanti dihubungi kalau sudah ada kamar yang kosong," ungkapnya.
Terkait dengan pembiayaan rumah sakit, semua sudah ditanggung oleh jaminan kesehatan nasional.
Adityawan terdaftar dalam layanan kesehatan BPJS kelas III.
"Saya sebagai orangtua berharap agar secepatnya mendapatkan kamar. Penyakit tumor mata anak saya semakin parah. Anak saya harus mendapat perawatan intensif," imbuh ayah Adityawan.
Kasubbag Humas RSUP Sanglah, Denpasar, dr Kadek Nariyantha membenarkan kamar pasien rawat inap untuk anak di ruangan pudak saat ini sangat penuh.
Untuk pasien atas nama Putu Adityawan memang pasien rujukan dari RSUD Klungkung.
Namun pasien tersebut bukan pasien emergency sehingga untuk sementara, pengobatan dan pemeriksaan dapat dilakukan di rumah.
"Untuk mendapat kamar rawat inap pasien sudah mendaftar di RS Sanglah. Karena kamar penuh, pasien diberikan solusi oleh pihak rumah sakit untuk menunggu dulu. Pihak rumah sakit tetap memberikan pelayanan medis berupa pemeriksaan dan pengobatan kepada pasien tersebut. Jika ada kamar kosong di ruangan pudak, secepatnya pasti akan diinformasikan oleh pihak rumah sakit," ujarnya. (*)