Bali Paradise
Mengenal Seni Patung Lewat Museum Arca, Spirit Seniman Ketut Alon
Karya Ketut Alon yang lain, semisal patung ‘Sutasoma’ yang digambarkan sedang mengendarai kuda pun memiliki taksu.
Patung ‘Shinta dan Jatayu’ karya Ketut Alon pun usianya sudah 70 tahun. Setiap seniman memiliki keunikan teknik.
Bahan yang digunakan sebagai patung beragam jenisnya. Tema yang diangkat dalam patung pun beraneka.
“Seniman yang berkarya sebelum tahun 50-an, kebanyakan mengangkat cerita wayang atau dewa-dewi. Ketut Alon misalnya, karya-karyanya masih bercorak tradisi. Sedangkan seniman yang berkarya di atas tahun 50 menggunakan tema abstrak, percintaan, ada juga yang realis dan humanis. Misalnya saja patung sosok ibu-anak dan patung kakek dan ayam aduannya,” jelas Ariasa.
Ia berharap melalui Museum Arca, generasi penerus, terutama kaum muda bisa belajar tentang akar budaya mereka.
Kayu Mulai Langka
Keberadaan kerajinan ukir kayu boleh dikata sangat bergantung pada ketersediaan kayu di alam. Saat ini jumlah kayu di Bali sudah tak lagi mencukupi kebutuhan para pengrajin.
Kayu dari luar pulau pun didatangkan sebagai pengganti. Meskipun hal tersebut terdengar sebagai solusi yang menjanjikan, bagaimana jika jumlah kayu luar suatu hari tak lagi cukup?
Ada banyak jenis kayu yang bisa dikreasikan untuk sebuah patung. Kayu waru (hibiscus), nangka, pangkal buaya, don tawas, dan jepun (kamboja) adalah jenis kayu yang biasa digunakan seniman patung Desa Mas. Menurut Kadek Ariasa, para pendahulu bisa mendapatkan kayu tersebut dengan mudah.
“Kayu nangka dulu sering digunakan masyarakat untuk membuat bangunan. Kayu pada bagian atasnya dipakai membuat tiang rumah, sedangkan kayu bagian bawah digunakan sebagai patung. Pohon nangka dulu mudah dijumpai di pinggir jalan. Namun sekarang cukup sulit. Begitu pula dengan pohon waru yang dulu tumbuh lebat di pinggir pantai,” ungkap Kadek Ariasa.
Ia tidak menyalahkan pembangunan sebagai penyebab mulai langkanya pohon tersebut di Bali. Namun ia cukup menyayangkan perilaku masyarakat yang enggan melakukan penanaman kembali. Sebuah kerajinan yang berasal dari bahan alam, menurutnya juga mengajarkan filosofi tentang pentingnya alam dan lingkungan sekitar.
“Tanpa dukungan alam, seni bisa mati. Jika sudah demikian, manusia pemilik budaya akan kehilangan jati dirinya. Karenanya antara dunia seni, alam, dan budaya haruslah memiliki sinergi,” ujar Kadek Ariasa. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/patung_20170731_163109.jpg)