Terperosok ke Kawah Gunung Agung, 3 Wisatawan Jerman Awalnya Nekat Mendaki Tanpa Pemandu
Ia baru saja berhasil diselamatkan setelah jatuh ke tepi kawah puncak Gunung Agung, di ketinggian 2.843 meter dari permukan laut.
Penulis: Saiful Rohim | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Hanya GPS yang mereka andalkan.
Mangku Dayuh menduga, Terge terpeleset karena medan yang terjal.
Belum lagi cuaca yang tidak menentu.
Selain itu, karena mereka pergi tanpa pemdandu, kemungkinan besar wisatawan tersebut kurang hati-hati karena tak tahu medan.
”Dini hari tadi (kemarin, Red) cuaca di atas gunung hujan dan berkabut. Sudah diimbau memakai pemandau tapi korban tidak mau,” uajrnya.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Karangasem, Ida Bagus Ketut Arimbawa mengatakan, tim gabungan mengalami kesulitan saat melakukan evakuasi.
Sebab, cuaca di puncak tergoilong ekstrem.
Kabut begitu tebal. Sementara hujan turun gerimis.
Proses evakuasi berjalan hingga tiga jam lamanya.
Terge Zense mengalami luka di bagian kepala, badan, dan kaki.
Jaga Sikap
Mangku Dayuh meminta para pendaki waspada dan mentaati aturan.
Cara yang paling aman saat mendaki adalah menggunakan jasa pemandu. Selain itu, ada aspek niskala yang ia tekankan.
Kata Mangku Dayuh mengingatkan jangan pernah mengucapkan kata-kata kotor dan berperilaku negatif saat berada di Gunung Agung.
“Gunung ini keramat, pendaki harus menjaga sikap. Kalau mendaki, pakailah jasa pemandu,” kata dia.
Humas Pura Pasar Agung, Wayan Suara Arsana menegaskan, aturan tersebut sudah lama dan sering disosialisasikan kepada pemedek dan para pendaki.
Data yang dihimpun Tribun Bali, tahun ini sudah tiga pendaki yang jatuh dan terpeleset di Gunung Agung.
Sedangkan tahun 2016 terjadi lima kasus. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/terge-zense_20170804_100738.jpg)