Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Citizen Journalism

Pengelolaan Sampah Kekinian, Solusi Limbah Rumah Tangga Perkotaan

Pertambahan penduduk perkotaan berkorelasi positif dengan pertambahan produksi sampah perkotaan.

Tayang:
Editor: imam rosidin
istimewa
Ilustrasi produk recycle sampah kekinian. 

TRIBUN-BALI.COM, BULELENG – Pertambahan penduduk perkotaan berkorelasi positif dengan pertambahan produksi sampah perkotaan.

Perumahan sebagai alternatif tempat bermukim para pendatang menjadi produsen sampah perkotaan terbesar.

Tercatat oleh Data Statistik Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Buleleng bahwa Banyuning yang memiliki jumlah kompleks perumahan terbesar di Kota Singaraja memproduksi 32,51 m3/hari atau 36,50% dari total timbulan sampah secara keseluruhan.

Salah satu perumahan tertua dan terbesar dari segi jumlah pemukim, yaitu BTN Banyuning Indah, memproduksi sampah anorganik lebih besar daripada sampah organik.

Sampah plastik adalah jenis sampak anorganik yang paling sering dijumpai di TPS, yang seringkali ‘memuntahkan’ sampah ke sekitar areal di luar TPS.

Sampah plastik tersebut diantaranya adalah botol minuman plastik, kemasan makanan ringan, alat kosmetik, dan tas/kantong plastik.

Ilustrasi produk recycle sampah kekinian.
Ilustrasi produk recycle sampah kekinian. (Istimewa)

Sampah anorganik tidak hanya akan mengubah keindahan perumahan menjadi kekumuhan, tetapi juga membahayakan lingkungan, mengingat proses penguraian alami dari sampah plastik sangat lama.

Bahkan botol minumal plastik baru terurai setelah 250 – 450 tahun.

Civitas Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) sebagai lembaga pendidikan, tidak hanya bertugas mengedukasi masyarakat, tetapi juga mengabdi kepada masyarakat untuk mempertinggi kualitas hidup masyarakat.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan memberdayakan ibu-ibu rumah tangga (RT) yang tidak mandiri secara ekonomi untuk mengelola sampah plastik yang dihasilkan pemukim perumahan.

Hal ini juga sejalan dengan program Pemerintah Kabupaten Buleleng yang mencanangkan Buleleng Bebas Sampah Plastik. 

Kegiatan pemberdayaan ini dimulai dari pembinaan yang mengarah pada perubahan pola pikir dan perilaku ibu-ibu terhadap lingkungan, kemudian dilanjutkan dengan pelatihan dan pendampingan kepada ibu-ibu RT untuk mengelola sampah plastik.

Sebagai pilot project, kegiatan ini melibatkan 6 ibu RT.

Sampah plastik sebagai bahan baku utama diolah menjadi produk-produk yang lebih bermanfaat, bernilai seni, bernilai ekonomis dan bersifat kekinian.

Produk yang dihasilkan adalah tempat charger hp, tempat sikat gigi, tempat permen dan jam dinding.

Handphone atau ‘smartphone’ adalah gadget populer yang digunakan oleh semua kalangan.

Tempat pengisian daya pun menjadi kebutuhan utama ketika daya gadget habis di tempat umum, sehingga gadget tidak menggantung ketika pengisian daya.

Produk pengolahan lainnya juga bermanfaat untuk mempercantik interior lingkungan rumah tempat tinggal maupun perkantoran.

“Pengelolaan sampah ini telah mengubah pola pikir saya tentang sampah plastik, kini setiap melihat botol minuman atau sampah plastik sejenisnya, saya selalu berpikiran untuk berkreasi” ujar Ibu Arnika sebagai salah satu ibu RT yang ikut serta dalam pengelolaan sampah kekinian.

Kedepan, kegiatan pengelolaan ini juga diharapkan dapat melibatkan kalangan remaja untuk mempertinggi kreativitas dan inovasi dalam mengolah sampah, terlebih lagi generasi milineal adalah generasi yang paling adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.

Penulis:

Putu Indra Christiawan, S.Pd., M.Sc.

Dosen, Tinggal di Buleleng, Bali

 

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved