Bejat, Tiga Siswi Ngaku Dicabuli Oknum Kepsek di Mendoyo, Oknum Kepsek Itu Akhirnya Dicopot

Dihadapan penyidik kepolisian, ketiga orang siswi itu telah mengakui dilecehkan oleh sang kepsek

Bejat, Tiga Siswi Ngaku Dicabuli Oknum Kepsek di Mendoyo, Oknum Kepsek Itu Akhirnya Dicopot
Net
Ilustrasi 

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA - Kasus dugaan pelecehan seksual yang menimpa tiga siswi di satu diantara SDN di Kecamatan Mendoyo yang diduga dilakukan oleh oknum Kepala Sekolah (Kepsek), IBPS akhirnya memasuki babak baru.

Senin (9/10/2017), di hadapan instansi terkait IBPS mengakui aksi cabulnya sehingga mengakibatkan ia dicopot dari jabatan Kepsek dan dipindahtugaskan.

Di lain sisi, proses hukum dari kasus dugaan pelecehan yang sempat dilaporkan ke Mapolres Jembrana ini tetap berlanjut dengan pemeriksaan para korbannya.

Berdasarkan informasi, dicopotnya IBPS yang merupakan warga dari Desa Yehembang Kauh, Kecamatan Mendoyo ini terungkap ketika dilangsungkannya rapat dengan instansi terkait di sekolah bersangkutan.

Rapat tersebut dihadiri oleh Ketua Komisi A DPRD Jembrana, Ni Made Sri Sutharmi, Kapolsek Mendoyo, Kompol Gusti Agung Sukasana, Perbekel Yehembang Kangin, I Gede Suardika, Komite sekolah bersangkutan beserta sejumlah Dinas terkait di Pemkab Jembrana.

"Yang jelas tadi dalam rapat diputuskan untuk memindahkan yang bersangkutan ke UPT Disdikpora Kecamatan Mendoyo. Ini merupakan upaya untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan, terutama dampak sosial di SD yang bersangkutan dan psikologis korbannya," tegas Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Pemkab Jembrana, I Putu Eka Swarnama ketika ditemui Senin (9/10/2017).

Sementara itu, Perbekel Desa Yehembang Kangin, I Gede Suardika mengatakan atas keputusan rapat tersebut IBPS mengaku menerimanya dan untuk jabatannya kini diisi oleh Pelaksana harian (PLh), Ni Made Sukardi.

Menurutnya, dalam rapat tersebut tak dibahas secara spesifik mengenai kasus dugaan pelecehan seksual tersebut.

Melainkan membahas kelanjutan proses belajar mengajar (PBM) siswa yang dikhawatirkan terganggu akibat dampak sosial dan psikologis dari kelakuan bejat oknum Kepsek tersebut.

Terkait dampak psiokologis korbannya, kata dia, penanganan hal ini sudah diserahkan ke Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3APPKB) dan akan dilakukan upaya pendampingan.

Selain untuk menciptakan kondisi yang kondusif di SD yang bersangkutan, keputusan pemindahan IBPS ini juga untuk kebaikan yang bersangkutan agar bisa fokus menjalani proses hukum kasus yang kini tengah ditangani Polres Jembrana.

"Kami tidak masuk dalam kasusnya karena itu sudah ranah Kepolisian. Yang jelas rapat tadi untuk menjaga kestabilan PBM dan menghindari hal-hal yang tak diinginkan," tandas Suardika.

Di lain sisi, Kasat Reskrim Polres Jembrana, AKP Yusak Agustinus Sooai mengatakan proses hukum dari kasus dugaan pelecehan seksual oleh oknum Kepsek ini masih berlanjut.

Pihaknya telah melangsungkan pemeriksaan terhadap ketiga orang siswi dan diakui ketiganya mendapat perlakuan pelecehan seksual oleh pelaku. 

“Tadi kami baru periksa ketiga korbannya dan memang diakui sempat mendapat perlakuan tak mengenakkan dari oknum Kepseknya. Nantinya kami akan memeriksa sejumlah saksi di lingkungan SD itu sebelum melakukan pemeriksaan terhadap terlapor," tandas Yusak. (*)

Penulis: I Gede Jaka Santhosa
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved