Gunung Agung Terkini
Pandita Mpu Purohita: ‘Beliau’ Isyaratkan Letusan Gunung Agung adalah Fakta yang Tak Bisa Diubah
Salah satu kelebihan dari sosok Pandita Mpu Paramadaksa Purohita adalah kemampuan berkomunikasi dengan para leluhur
Kebetulan ia duduk di sebelah saya, kami pun akhirnya terlibat perbincangan santai, lagi-lagi dengan sangat ramah. Ternyata saya berbicara dengan seorang pandita.
Saya bertanya mulai dari dari keseharian hingga aktivitasnya sebagai pandita dan juga perbedaannya dengan Jro Mangku yang bertugas memimpin doa di sebuah pura.
Akhirnya saya meminta izin agar Pandita Mpu Purohita bersedia saya wawancara.
Ia pun bersedia. Dan, akhirnya kami memulai proses wawancara.
Saya bertanya kepada Pak Pandita, terkait dengan kondisi zona bahaya di Pura Besakih. Pasalnya, selama hampir dua jam saya berada di pura ini, justru tak henti–henti mereka yang datang untuk sembahyang, terus mengalir.
Pura Besakih berada di kawasan zona 6 kilometer dari Kawah Gunung Agung, yang saat ini sedang berstatus Awas, siaga menghadapi letusan.
Pak Pandita pun menjawab bahwa ia telah berkomunikasi dengan "Beliau, Putra Bhatara Indra Wilatikta" di sana. "Beliau" mengisyaratkan bahwa letusan Gunung adalah sebuah fakta yang tidak bisa diubah.
Pandita pun melanjutkan, "Untuk fakta yang tidak bisa diubah, umat manusia harus menerima dengan lapang dada, dan agar umat terus-menerus memohon, sekiranya meletus dampaknya agar tidak luas. Rahayu jagat Bali (Selamat sentosa seluruh Bali)".
Saya kemudian bertanya, apa yang dimaksud dengan "Beliau"? Apakah bukan manusia?" Pak Pandita pun menjawab, "Ya, bukan".
Lepas dari wawancara saya, Pak Pandita pun mengajak saya, untuk mengantar ke tempat "Beliau". Saya berjalan mendaki beberapa ratus meter, masih di lingkungan Pura Besakih, namun di tempat yang paling tinggi dari bagian Pura Besakih ini.
Pak Pandita menunjukkan kepada saya, ada beberapa bangunan yang didiami oleh beberapa leluhur, di antaranya Maharaja Jayabaya dan Bhatari Maheswari, yang memimpin kerajaan Kadiri di Jawa bagian Timur, serta terkenal dengan ramalannya.
Pak Pandita menunjuk bangunan suci Hyang Wisesa (manifestasi Dewa Indra) dan Bhatari Ratu Mas Magelung.
Ia pun menjelaskan yang memberi petunjuk Pak Pandita, adalah Putra Bhatara Indra Wilatikta, putra dari Hyang Wisesa.
Di akhir wawancara saya, Pak Pandita berpesan agar teknologi jangan dianggap remeh.
Oleh karenanya, arahan pemerintah akan keselamatan warga di Bali tetap harus diutamakan.