Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Gunung Agung Terkini

Perpanjang Status Siaga Darurat Bencana, Aktivitas Vulkanik Gunung Agung Masih Tinggi

Namun berdasarkan laporan dari PVMBG, ternyata aktivitas vulkanik Gunung Agung masih tinggi.

Tayang:
Facebook
Gunung Agung 

Devy pun mengimbau masyarakat untuk tidak panik berlebihan dengan fenomena tremor non-harmonik yang mulai muncul dalam dua hari terakhir.

Menurutnya, gempa tremor non-harmonik normal terjadi saat kondisi aktivitas vulkanik gunung api sedang tinggi.

Namun, ia tetap mengimbau kepada masyarakat untuk tidak beraktivitas di radius KRB yang telah ditetapkan.

Ia menjelaskan, gempa tremor non-harmonik memiliki durasi yang pendek.

Seperti yang terekam di Gunung Agung, gempa tremor masih berdurasi tiga menit dengan amplitudo yang belum over skill (melebihi batas ukur).

Sementara gempa tremor yang harus dikhawatirkan masyarakat adalah gempa tremor yang terjadi terus menerus, dengan durasi sampai hitungan puluhan menit atau beberapa jam (disebut tremor organik).

Biasanya saat pengukuran gempa menggunakan seismograf, amplitudo tremor organik ini akan menunjukkan over skill dan dalam hitungan menit atau jam akan diikuti dengan letusan atau erupsi.

"Kalau yang terekam sementara ini gempa tremor yang berdurasi pendek, masih sekitar tiga sampai empat menitan dan terputus. Ini belum tremor yang menandakan jika Gunung Agung akan erupsi beberapa jam lagi. Gempa tremor memang konsekuensi untuk gunung api yang statusnya berada di Level IV  (Awas)," ungkap Devy.

Gempa tremor non-harmonik terjadi akibat mekanisme tekanan vulkanik di bawah yang terus bergerak secara bersamaan menuju permukaan.

Saat di permukaan, fluida bermanifestasi menjadi asap putih yang lebih tebal.

Hal ini terpantau sesaat setelah Gunung Agung mengalami gempa tremor-non harmonik, yakni dari puncak Gunung Agung tampak asap putih sekitar 200 meter yang lebih tebal dari biasanya.

"Kalau asap putih mengepul tebal seperti itu sebenanya baik dan bagus, sehingga tekanan di perut gunung terus habis. Bahaya justru jika tidak ada manifestasi fluida ke permukaan berupa asap tadi. Kalau kita lihat saat ini, hal tersebut masih termasuk minim di Gunung Agung. Kita harapakan agar gas seperti ini terus keluar," ujarnya.

Menurut Devy, semakin banyak asap keluar, akan diikuti dengan trend gempa yang akan kian menurun.

Hal tersebut dikarenakan saat gas terus keluar, magma akan terkristalisasi.

Jika sudah demikian, mobilitas magma akan berkurag dan kehilangan energinya.

"Kalau sekarang gempa vulkanik masih sangat tinggi, bahkan gempa mencapai 907 perhari. Ini tentu sangat tinggi, dari pada saat pertama kali kita naikkan Gunung Agung ke status Awas yakni rata-rata gempa vulkanik 360 kali per harinya," katanya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved