Gunung Agung Terkini
Perubahan Rekahan Kawah Gunung Agung Hingga Hebohnya Video Joged Bumbung yang Jadi Viral
Berita populer sepanjang hari ini masih seputar informasi terkini terkait Gunung Agung. Dari hasil pemantauan terbaru melalui drone 450 milik tim
TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA – Berita populer sepanjang hari ini masih seputar informasi terkini terkait Gunung Agung. Dari hasil pemantauan terbaru melalui drone 450 milik tim Aero Terascan, terpantau adanya perubahan rekahan kawah Gunung Agung.
Selain itu, berita terpopuler lainnya adalah hebohnya tersebarnya video joged bumbung. Supaya Anda tidak ketinggalan informasi, begini selengkapnya.
Bentuk kawah Gunung Agung mengalami perubahan setelah terjadi erupsi freaktif, Selasa (21/11).
Dari hasil video yang diperoleh drone AI 450 milik Aero Terrascan, Jumat (24/11), mengambarkan di tengah kawah Gunung Agung tampak lubang besar dan mengeluarkan asap putih. Rekahan yang disebabkan erupsi dan gempa tremor juga bertambah.
"Terlihat ada lubang besar. Lubang itu baru terlihat tadi pagi. Dari pemantauan sebelumnya, drone tidak sampai merekam ada lubang besar tepat di tengah kawah. Paling cuma merekam rekahan mengeluarkan asap," kata Fligt Direktor Aero Terrascan Bandung, Feri Ametia Pratama, kemarin siang.
Staff Geokimia PVMBG, Ugan Saing, menjelaskan lubang besar di tengah kawah mengeluarkan asap. Sebelum erupsi 21 November lalu, lubang tersebut belum ada. Kemungkinan itu ada setelah erupsi. Dalam waktu dekat lubang tersebut akan diukur sesuai peta yang ditentukan PVMBG.
Terbentuknya lubang di tengah kawah menandakan erupsi freaktif mampu membongkar bagian dasar tengah kawah, sehingga membentuk lubang seperti sekarang. Lubang besar di tengah kawah adalah temuan baru. Temuan ini bisa dijadikan rujukan untuk tentukan status Gunung Agung selanjutnya.
"Berarti saat ini sudah ada dua lubang besar sekitar kawah Gunung Agung. Pertama di dinding kawah bagian timur, dan kedua di tengah kawah," kata Ugan Saing ditemui di Lapangan Selat, Desa/Kecamatan Selat, kemarin.
Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Berapi, Devy Kamil Syahbana, menyatakan ada berapa temuan baru yang diperoleh tim drone Aero Terrascan, kemarin siang. Dilihat dari warnanya, hamparan abu erupsi yang tersiram hujan warnanya abu-abu. Lubang di tengah yang berasap kemungkinan lubang erupsi Selasa lalu.
Saat gunung normal, lubang ini tidak ada dan hanya berupa tumpukan pasir. Saat krisis kegempaan, lubang di tengah ini mulai berasap. Selanjutnya saat erupsi membentuk lubang dengan diameter sekitar 60 meter. "Jadi jelas ini erupsi ya, karena sudah ada material abu," kata Devy menegaskan.
Sampel abu erupsi sudah dikumpulkan Tim PVMBG dan telah dikirim ke BPPTKG Yogyakarta dan ke Bandung untuk dianalisis kandungan partikel abunya. Apakah ada material magma baru (juvenile) atau tidak.
Seandainya ada, maka erupsi tersebut bernama erupsi freato-magmatik. Jika juvenile tidak signifikan maka erupsi kemarin bernama erupsi freatik.
Perlu diingat, kata Devy, driving-force dari erupsi freatik adalah steam (uap) dari magma yang berinteraksi dengan air bawah permukaan pada reservoir atau pada sistem hidrothermal.
Hujan bukan pemicu utama erupsi, tapi hanya menambah volume air. "Kalau memang hujan pemicu erupsi, seharusnya tiap musim hujan banyak gunung yang erupsi," imbuhnya.
Adapun aktivitas kegempan vulkanik terus alami penurunan. Hingga berita ini ditulis, seismograf belum merekam adanya gempa tremor.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/kolase-drone-dan-joged-bumbung_20171125_154210.jpg)