Gunung Agung Terkini
7 Aktivitas Vulkanik Terkini Gunung Agung, PVMBG Ungkap Fenomena Guratan Berwarna Coklat Ini
Terkait aktivitas terkini Gunung Agung, berikut fakta-fakta yang berhasil dihimpun dari PVMBG sepanjang hari ini.
Penulis: Putu Candra | Editor: Ady Sucipto
TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Sepanjang Sabtu (2/12) kegempaan Gunung Agung terpantau relatif menurun, namun aktivitas vulkanik masih tinggi.
Hal ini ditandai masih terekamnya gempa vulkanik dalam maupun vulkanik dangkal. Pula, gempa-gempa frekuensi rendah dan juga gempa tremor menerus.
Demikian dijelaskan Kepala Sub Bidang Mitigasi Pemantauan Gunungapi Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana, Sabtu (2/12) di Pos Pengamatan Gunungapi Agung, Rendang, Karangasem.
Terkait aktivitas terkini Gunung Agung, berikut fakta-fakta yang berhasil dihimpun dari PVMBG sepanjang hari ini.
1. Aktivitas vulkanik Gunung Agung masih tinggi ditandai oleh gempa yang berhasil terekam oleh seismograf
"Dari kemarin sampai saat ini kondisi Gunung Agung aktivitas vulkanik masih tinggi. Masih terekam gempa vulkanik dalam dan dangkal. Juga gempa low frekuensi dan juga gempa tremor menerus. Kalau dilihat, artinya masih ada tekanan di dalam perut gunung Agung. Ini masih kami perlu antisipasi kedepan akan seperti apa," jelasnya.

Apalagi dijelaskan Devy, terjadinya gempa terasa dengan amplitudo 3,5 skala ricther. Atas hal tersebut, dikatakan Devy terjadi gempa terasa itu harus diwaspadai karena berkaitan dengan aktivitas Gunung Agung.
"Kemarin ada gempa terasa dengan amplitudo 3,5 skala ricther. Ini harus diwaspadai karena, gempa ini bisa berkaitan dengan aktivitas Gunung Agung," ujarnya.
2. Sepanjang Sabtu (2/12) dini hari tadi terpantau ada 8 kali gempa vulkanik dan dua kali hembusan
Terkait dengan pengamatan aktivitas Gunung Agung periode enam jam dari pukul 00.00 Wita-06.00 Wita dipaparkan Devy, terpantau delapan kali gempa vulkanik, dua kali hembusan.
"Ini relatif tinggi aktivitasnya. Sehingga status masih level IV Awas," jelasnya.

3. Lava terpantau oleh satelit di dalam kawah Gunung Agung
Sementara untuk lava dari pantauan satelit, dijelaskan Devy, diestimasi bahwa sudah terdapat lava di dalam kawah Gunung Agung.
Disebutkannya, kawah Gunung Agung sendiri kedalamannya sekitar 200 meter.
"Jadi visualisasi lava yang ada di dalam kawah tidak terlihat kalau dari bawah. Dari bawah ini kan kelihatannya tenang. Tapi yang di atas sudah ada lava yang mengisi sekitar sepertiga volume kawah secara keseluruhan. Jika dikonversi sekitar 20 juta meter kubik," terang Devy.
4. PVMBG akan terbangkan drone
Dengan masih tingginya aktivitas Gunung Agung, pihak PVMBG berencana akan menerbangkan pesawat tidak berawak (drone). Namun dikatakan Devy, masih akan memperbaiki kondisi drone pasca berhasil diterbangkan beberapa waktu lalu.
"Kami masih memperbaiki kondisi drone yang sukses mengambil gas. Ini masih kami rencanakan, mudah-mudahan minggu depan," ujarnya.

Lebih lanjut diterbangkannya drone kata Devy, untuk mengambil visual Gunung Agung secara keseluruhan.
"Kami berusaha mengambil semuanya. Mengambil visual, gas. Tapi kalaupun hanya mengambil visual itu sangat bermanfaat untuk memonitoring kondisi lava di permukaan," ucapnya.
5. Fenomena guratan berwarna coklat di lereng gunung adalah material abu
Ditanya, informasi teramatinya garis berwarna coklat di lereng gunung. Devy menerangkan, guratan-guratan berwarna abu yang terlihat dari puncak sampai ke bawah adalah material abu yang terbawa oleh hujan.
"Kita lihat ada semacam guratan-guratan berwarna abu dari puncak sampai ke bawah, itulah material abu yang terbawa oleh hujan. Kalau sebelumnya kan tidak ada. Sementara pemantauan dari tim kami di lapangan, abu melanda wilayah puncak. Jatuhan abu ini sudah melanda wilayah puncak," terangnya.
6. Dampak abu vulkanik
Kembali ditanya, apakah jatuhan abu vulkanik itu berdampak pada tanaman. Pihaknya menegaskan, material abu yang jatuh memang berdampak merusak tanaman, bahkan bisa menghanguskan, jika dalam jarak yang relatif lebih dekat ke kawah.
"Jadi dampak langsung dari abu ini, berupa rusaknya lahan, kalau misalnya terkumpul dalam satu aliran sungai, terbawa oleh hujan dan menjadi lahar hujan. Kalau misalnya jauh bisa menganggu manusia. Sehingga masyarakat harus mempersiapkan diri dengan masker dan alat penutup mata. Karena partikel abu vulkanik bersifat korosif dan juga iritasi untuk mata, kulit dan juga sistem pernafasan," himbaunya.

Selain tanaman, apakah berdampak pada tanah, dan seperti apa dampak jangka pendek maupun jangka panjang. Kembali dijelaskan Devy, jika melihat jangka pendek, banyak bencana. Artinya tanaman rusak, lahan tidak bisa lagi digunakan.
Tapi kalau melihat jangka panjang, ini adalah satu investasi kedepannya akan menjadi tanah yang subur dan masyarakat akan mendapat manfaatnya.
"Artinya kalau proses erupsi ini sudah selesai, tidak ada lagi hujan abu. Abu akan terbawa oleh hujan, terserap tanah. Abu ini adalah mineral yang datang dari perut bumi. Mineral yang datang dari perut bumi ini mengandung zat-zat yang dibutuhkan untuk menentukan vertilitas dari tanah. Kedepannya ini akan menjadi tanah yang subur," jelas Devy.

7. Pasca erupsi terkait recovery tanah pertanian
Ditanya kira-kira berapa lama proses recovery tanah menjadi subur, pasca erupsi. Pihaknya menyatakan tergantung besarnya eksplosif erupsi.
"Tergantung juga seberapa eksplosif erupsinya. Bisa jadi singkat dalam waktu misalnya beberapa bulan atau tahun. Misalnya efek kerusakan yang terlalu besar, recoverynya lebih lama. Jadi sangat tergantung seberapa besar efek dari eksplosifitas erupsi itu. Material vulkanik ini adalah material yang membawa kesuburan tanah. Jadi abu yang dikeluarkan ini, salah satunya adalah mineral yang baik untuk keseburan tanah," urainya. (*)