Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Heboh, Pemulung Kepergok Gali Kuburan Incar Bokor Berisi Simbol Sawa untuk Dijual       

pria yang bekerja sebagai pemulung ini tertangkap basah mengambil simbol sawa yang dikubur warga di Setra

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: Ady Sucipto
Tribun Bali/Ratu Ayu
Salah seorang warga menujukkan dua karung beras berisi bokor, bekas sarana pengabenan yang diambil oleh Anis di Setra Banjar Adat Kajanan, Dusun Sanih, Desa Penglatan, Selasa (23/1) siang. 

   

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Ulah Anis Pujiono (41), membuat warga Desa Penglatan, Buleleng mendadak heboh pada Selasa (23/1).

Pagi kemarin, sekira pulul 09.30 Wita, pria yang bekerja sebagai pemulung ini tertangkap basah mengambil simbol sawa (badan kasar, red) yang dikubur warga di Setra Banjar Adat Kajanan, Dusun Sanih, Desa Penglatan.

Barang yang diambil ini terdiri dari beberapa buah bokor milik keluarga besar Dadia Pasek Gelgel Sibang Kaja Desa Pakraman Penglatan.

Ia menggali tanah sedalam kurang lebih 50 sentimeter menggunakan tangan.

Setelah didapatkan, Anis kemudian memasukkan barang-barang tersebut ke dalam dua buah karung beras untuk selanjutnya dijual kepada pengepul.

Namun aksinya berhasil dipergoki oleh Ketua BPD Desa Penglatan, Nyoman Sukerena. Ia pun langsung menggiring Anis ke Kantor Kepala Desa Penglatan untuk dimintai keterangan.

Di hadapan aparat desa, Anis mengaku tidak mengetahui bokor yang dia ambil itu masih disakralkan. Sebab, barang-barang tersebut ditanam persis di tempat pembakaran setra.

Anis pun menegaskan jika barang-barang itu ia ambil murni hanya untuk kepentingan rupiah. Jika dijual ke pengepul, harga untuk satu kilogram bokor bisa mencapai Rp 10 ribu.

"Awalnya saya lihat ada kain. Kain itu saya tarik, ternyata keluar bokor. Tanahnya langsung saya gali pakai tangan, ternyata ada banyak bokor yang tertanam. Saya pikir bokor ini tidak dipakai lagi karena poisisinya ada di tempat pembakaran. Langsung saya masukkan ke dalam karung," tutur Anis.

Sarana upacara pengabenan yang diambil oleh Anis merupakan milik keluarga besar Dadia Pasek Gelgel Sibang Kaja Desa Pakraman Penglatan.

Keluarga ini menggelar upacara pengabenan pada Jumat (12/1) lalu dan baru selesai pada Senin (22/1) kemarin.

Wayan Sayang (68) selaku salah satu keluarga Dadia Pasek Gelgel Sibang Kaja Desa Pakraman Penglatan menjelaskan, dalam rangkaian upacara pengabenan itu pihak keluarga menanam simbol-simbol mayat di Pura Setra Banjar Adat Kajanan, Dusun Sanih, Desa Penglatan sebagai arti jika proses upacara telah selesai dilaksanakan.

"Yang mengikuti upacara ngaben ini ada 88 kepala keluarga (KK). Kami menanam simbol-simbol mayat di sana. Totalnya ada 38 sawa. Dari 38 itu, 37 di antaranya ngerapuh dan satu ngelungah. Semua mayat disimbolkan dengan dibungkus kain kuning, pakai bokor dan ada uang gepengnya. Nah bokor ini lah yang diambil oleh pemulung itu," tutur Sayang.

Nilai Kesakralan

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved