Serba Serbi

Filosofi Bangunan Tradisional Bali, Simak Aspek-aspek Ini

Konsep Asta Kosala Kosali sama dengan anatomi tubuh manusia mulai dari kepala, badan, dan kaki

Rumah Bali 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Menurut Popo Danes, salah satu arsitek kenamaan dari Bali, bangunan tradisional Bali merupakan bangunan yang sangat kaya secara budaya.

Sarat dengn filosofi baik dengan menerapkan konsep Asta Kosala Kosali

"Asta Kosala Kosali merupakan building code dari bangunan tradisional Bali dari mulai bagaimana menata space, ruangan sehingga kita punya sanga mandala, dimana satu karang dibagi sembilan untuk menentukan dimana membangun sanggah, membangun rumah, dapur, natah, teba dan sebagainya," kata Popo.

Selain itu dalam bangunan Bali ada juga konsep Tri Angga. 

Konsep ini sama dengan anatomi tubuh manusia mulai dari kepala, badan, dan kaki. 

Bagian kepala ada atap limasan yang berbentuk segitiga atau limas. 

Badan dalam bangunan adalah ruangan dan juga bale. 

Sedangkan kakinya yaitu bataran atau pondasi.

Dalam membuat lantai, menurut Popo, bangunan Bali tradisional sudah cukup signifikan jika dilihat dari tinggi lantainya. 

"Saya kira itu melalui proses cukup panjang berdasarkan pengalaman hidup, bagaimana caranya kalau musim hujan, ketinggian air tidak sampai mengenai lantai," papar Popo.

Selain itu, arsitektur bangunan tradisional Bali juga memperhitungkan ketersediaan bahan karena dulu Bali secara arsitektur hanya pulau ini saja dan tidak seperti sekarang bisa mengambil kayu dari Kalimantan.

"Di Bali tidak cukup tersedia sumber daya alam. Tidak memiliki banyak kayu dan juga ukurannya tidak panjang. Batu kebanyakan batu lokal saja, sehingga membuat aturan-aturan tradisional ini sampai ada hirarki terkait ketersediaan bahan," imbuhnya.

Selain itu, menurut Popo, karena spiritualitas orang Bali, maka bahan yang bagus digunakan membangun tempat sembahyang. 

Kayu bagus untuk membangun pura seperti cempaka, nangka, dan majagau.

Kayu tersebut merupakan kayu kelas satu di Bali.

"Kalau dulu kayu lima meter sudah panjang banget. Kalau sekarang kan ada sitem baut atau pakai lem. Ukuran-ukuran kita masih ukuran badan. Ada namanya adepa, anyari, alangkat. Sehingga Dulu tidak mungkin bisa membuat adegan lebih dari tiga setengah meter," imbuh Popo. (*)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved