Breaking News:

Banjar Cekeng Jadi Desa Wisata, Mirip Penglipuran, Punya 4 Wahana Unggulan

Minat masyarakat menjadikan wilayahnya sebagai desa wisata pun tergolong sangat tinggi.

Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury
Banjar Cengkeng jadi desa wisata 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Banjar Cekeng, Desa Sulahan, Susut, Bangli, Bali tidak hanya kental dengan sejarahnya.

Banjar ini juga didaftarkan menjadi Desa Wisata.

Baca: Sebutan Bali Aga untuk Banjar Cengkeng, Unik Tak Mengenal Upacara Pembakaran Mayat

Sesuai dengan masterplan-nya konsep desa wisata yang ditawarkan, dijelaskan Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Banjar Cekeng, I Nyoman Ardana, akan dikembalikan sebagaimana bentuk aslinya.

Yakni memiliki atap bambu pada angkul-angkul rumah warga.

“Bisa dikatakan Penglipuran dua, sebab konsep penataan desanya hampir mirip dengan Penglipuran,” ucapnya.

Perencanaan Banjar Cekeng untuk menjadi Desa Wisata, lanjut Nyoman Ardana sejatinya telah direncanakan sejak 2004.

Namun baru muncul dalam surat keterangan (SK) perencanaan desa wisata di Kabupaten, pada tahun 2016.

Minat masyarakat menjadikan wilayahnya sebagai desa wisata pun tergolong sangat tinggi.

Terlebih usaha tersebut mendapat dukungan dana dari pemerintah kabupaten, dan desa, yakni berupa pembangunan akses jalan dan tempat parkir.

Meski demikian, penataan sebagai desa wisata dikatakan masih jauh dari kata sempurna.

“Perlu keseragaman angkul-angkul. Jika diseragamkan semuanya, taksiran dana untuk satu angkul-angkul Rp 10 hingga Rp 15 juta. sedangkan di sini terdapat 29 KK. Sehingga dana yang dibutuhkan juga cukup besar,” sebutnya.

Berbicara mengenai desa wisata, wajibnya memiliki produk unggulan yang ditawarkan.

Kata Nyoman Ardana, sedikitnya terdapat 4 wahana unggulan yang ditawarkan.

Di antaranya wahana air terjun, wahana tracking, situs sejarah, serta desa wisata.

Hanya saja, diakui dia, dari sejumlah wahana unggulan tersebut, masih perlu dilakukan penataan lanjutan.

Seperti objek wisata air terjun, yang memerlukan penataan untuk akses jalannya.

Terkait dengan Desa Wisata ini, Nyoman Ardana juga mengatakan, melalui paruman bulanan, pihak desa telah menerbitkan dua buah perarem.

Di antaranya larangan berburu burung, serta kepemilikan satu anjing dalam satu pekarangan, dan tidak diperbolehkan untuk berkeliaran.

“Perarem ini sudah disetujui sejak rapat awal tahun lalu. Seluruh warga juga sudah mengikuti perarem ini,” tandasnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved