Terkenal dengan Destinasi Wisatanya, Ini 3 Permasalahan yang Dihadapi Pariwisata Indonesia di 2018
Tak cukup dengan brand Wonderful Indonesia, pariwisata Indonesia ternyata masih menyimpan pekerjaan rumah yang cukup banyak pada 2018
TRIBUN-BALI.COM - Tak cukup dengan brand Wonderful Indonesia yang menjuarai banyak penghargaan, pariwisata Indonesia ternyata masih menyimpan pekerjaan rumah yang cukup banyak pada 2018.
Beberapa permasalahan yang menjadi target penyelesaian tersebut diungkapkan Menteri Pariwisata Arief Yahya di sela penandatanganan Co-Branding Wonderful Indonesia dengan PT Blue Bird Tbk di kantor Blue Bird Mampang, Jakarta, Selasa (26/3/2018).
1. Kebersihan
“Kebersihan memang masih jadi PR untuk pariwisata ke depan. Oleh karenanya kita akan memulai di toilet-toilet destinasi prioritas yang khusus dikelola swasta,” ucap Arief Yahya, saat sesi tanya jawab dengan media.
2. Sampah
Selain masalah kebersihan toilet, Menpar juga mengakui masalah sampah tidak kunjung selesai di Indonesia.
Sebelumnya ia pernah menargetkan langkah konkret perihal pengelolaan sampah di destinasi wisata, sebelum acara Annual Meeting IMF-World Bank di Bali, Oktober 2018.
Masalah sampah, menurut Menpar, menjadi salah satu yang paling krusial, karena Indonesia masuk dalam jajaran negara dengan sampah plastik terbanyak di dunia.
Kementerian Pariwisata siap berkoordinasi dengan kementerian lain terutama LHK untuk membuat sistem daur ulang sampah di destinasi wisata.
3. Kesan Pertama
Terakhir Menpar mengatakan yang masih harus dibenahi ialah delivery channel, yang paling penting di dalamnya ialah moment of truth atau kesan pertama saat bersentuhan dengan pariwisata Indonesia.
“Contoh nyatanya kesan pertama yang terlihat ialah bagaimana petugas keimigrasian kita? Servis wisata kita termasuk layanan taksinya, juga sign-sign di pintu masuk,” paparnya.
Ia mencontohkan bagaimana kita tidak menggunakan sign (penanda) berbahasa China, padahal mereka merupakan wisatawan terbesar di dunia dan di Indonesia untuk saat ini.
Hal inilah yang paling kelihatan dalam kesan pertama.
“Bagaimana bisa kita undang terus mereka kalau kita tidak memberikan salam pada mereka,” ujarnya mengilustrasikan hal tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ketapang_20171130_170733.jpg)