Dharma Wacana
Yadnya Menjadi Persembahan Ego
Yadnya secara universal mengandung aktivitas cinta kasih, keikhlasan, dan persembahan.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ady Sucipto
TRIBUN-BALI.COM, - Yadnya secara universal mengandung aktivitas cinta kasih, keikhlasan, dan persembahan. Biasanya yadnya diistilahkan sebagai korban suci.
Tapi, saya tidak setuju dengan istilah korban suci itu. Yang lebih tepat adalah aktivitas rela berkorban.
Ketika kita berbicara yadnya dalam aspek upakara, di sana ada konsep dualisme, yakni spirit dan material.
Saat ini banyak umat yang tidak melihat dari konsep spiritnya, tetapi lebih banyak ke unsur material, sehingga hal-hal yang bersifat material lah yang ditonjolkan.
Sarana upakara dijadikan komoditas, dan bahkan dieksploitasi kelompok tertentu.
Terkadang, yadnya dengan bebantenan besar tidak hadir karena keinginan atau kemampuan si pemilik gawe.
Tetapi permintaan oknum tukang banten, dengan tujuan memenuhi target pendapatan.
Akibatnya, sering terjadi, seharusnya bisa memakai satu kerbau, tukang banten meminta lebih dari satu.
Kalau kita berpikir secara rasional, wilayah yadnya itu memang tidak terukur karena merupakan persembahan untuk Tuhan.
Tapi ketika masuk ke dunia material (sarana upakara), kan seharusnya ada ukuran.
Ukuran tersebut harus sesuai dengan desa, kala, patra.
Maksudnya, memperhitungkan jumlah krama dan kemampuan finansial krama.
Dengan konsep ini, sarana upakara di daerah penduduk banyak namun ekonominya menengah ke bawah, tentu akan berbeda dengan daerah yang penduduknya sedikit tapi kaya.
Dalam yadnya, persentase penghasilan dan jumlah krama sangat penting sekali. Karena dalam konsep yadnya, di situ ada kewajiban untuk kita melakukan wairagya atau pelepasan.
Namun di sini terkadang umat kurang menyadari. Apalagi di era sekarang ini, adanya komunikasi lewat media sosial (medsos) yang diramu oleh media-media mainstream menyebabkan masyarakat lebih mudah mempertontonkan egonya.