Dharma Wacana

Yadnya Menjadi Persembahan Ego

Yadnya secara universal mengandung aktivitas cinta kasih, keikhlasan, dan persembahan.

Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ady Sucipto

Sehingga terjadilah desa yang tadinya hanya menggelar upacara kecil, mendadak menggelar upacara besar dengan puluhan kerbau.

Ritual besar itu lantas dipotret dan dipertontonkan di medsos. Itu dilakukan semata-mata untuk reproduksi identitas, supaya desanya disegani.

Kita tidak boleh memungkiri bahwa hal inilah yang sedang terjadi. Kita juga tidak boleh menampik kondisi saat ini bahwa persaingan antar desa di Bali sangat kuat.

Kalau desa A bisa menggelar ritual besar, desa B pasti berupaya supaya bisa melakukan ritual yang lebih besar lagi.

Akibatnya, uang kas desa hanya akan habis untuk yadnya. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi, pelaba desa atau pura dijual untuk memenuhi kebutuhan upacara.

Kalau umat berpikir cerdas, uang yang dimiliki desa juga harus digunakan untuk pembangunan sumber daya manusia.

Desa adat harus punya program yang dapat memperbaiki kualitas berpikir dan ekonomi kramanya. Mereka jangan diajak meyadnya saja. 

Kalau ini terus terjadi, jangan salahkan kalau di dunia kerja, umat kita hanya menjadi buruh kasar.

Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali harus hadir mencarikan solusi atas keadaan seperti ini. Berikan pencerahan yang rasional kepada umat.

Mohon maaf sekali, selama ini yang terlihat PHDI hanya hadir ketika ada permasalahan, khususnya berkaitan dengan proyek-proyek.

Maka, tidak heran jika ada yang mengatakan PHDI bukan lembaga umat, tetapi hadir sebagai pengganjal proyek A atau melancarkan proyek B. Sebab keseharian umat sangat jarang sekali dibahas PHDI.(*)

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved