Ngopi Santai
Tenggelamnya Nama Aremania
Satu setengah dekade yang lalu Nama Aremania julukan suporter klub sepak bola Arema Malang sempat menyita perhatian publik bola Indonesia,
Penulis: Rizal Fanany | Editor: Ady Sucipto
Dominasi warna biru harus rela berbagi dengan warna kuning. Namun Aremania sempat memprotes terlalu dominannya warna kuning di jersey tim Arema.
Dan baru-baru ini terjadi hal yang sama, habis Bakrie terbitlah Zulkifli Hasan, Ketua MPR sekaligus ketua umum PAN sempat akan mengacak-acak tubuh Aremania ,walaupun sudah diklarifikasi oleh perwakilan aremania tentang beredarnya video sang ketua umum partai berlambang matahari bersama beberapa Aremania menyanyikan yel-yel arema diiringi tabuhan drum sembari menyulut flare.
Mungkin tak hanya di tubuh Suporter Aremania yang merasakan nuansa politik,di tubuh suporter-suporter lainnya yang memiliki massa besar merasakan hal yang sama.
Ya, sepak bola Indonesia tak lepas dari politik, Induk Persepakbolaan Indonesia sampai sekarang masih dikuasai orang-orang politik. Ketua PSSI nya saja sekarang maju mencalonkan diri menjadi Calon Gubernur Sumatera Utara.
Entah terlena dengan nama besar atau sibuk mengurusi internal di tubuh tim Arema yang tak kunjung bersatu, Aremania semakin lama semakin tertinggal dalam hal kreativitas.
Ditambah vakumnya korwil-korwil yang notabene sebagai kekuatan akar rumput suporter, dan masuknya budaya casual yang mulai di adopsi suporter-suporter lain semakin menenggelamkan Aremania yang dulu pernah menyandang gelar suporter terbaik indonesia.
Walaupun saat ini muncul sejumlah komunitas casual yang berkiblat pada budaya suporter Eropa di tubuh Aremania tak lantas menyatukan mereka dalam hal mendukung, dulu mereka berdiri bersama, bernyanyi bersama untuk satu kemenangan.
Kini yang terjadi terlihat terkotak-kotak membawa panji-panji komunitasnya, lebih mementingkan fashion dan ekslusivitas daripada tujuan utama yakni mendukung tim arema berlaga.
Kekompakan mulai luntur,nama Aremania sendiri tenggelam dengan nama komunitas-komunitas, gambar kepala singa bertindik nan garang juga mulai jarang terlihat di kaos, syal, bendera suporter Aremania.
Namun masih ada sekumpulan Aremania yang rindu dengan zaman “Mania”nya, mereka mengadakan pertemuan atau ajang silaturahmi di stadion Gajayana yang dulu menjadi home base Arema, membawa panji-panji kebesaran Arema, drum, bendera,syal, muka dan tubuh dicat dominan warna biru, mereka bernyanyi menari bersama.
Setidaknya kerinduan akan masa emas Aremania sedikit terobati dengan ajang silaturahmi yang menyamakan derajat dan mengesampingkan komunitas-komunitas kecil di tubuh Aremania.
Dan kini mereka yang masih bersihkukuh dengan culture lama namun dengan kreativitas baru mendukung tim Arema Indonesia yang berlaga di liga 3.
Kita pasti sudah tahu, pecahnya komunitas Aremania ini tak lepas dari dua kubu manajemen yang bersikukuh mencari kebenaran masing-masing dan tak mau mengalah, ibarat gunung es masalah terbesar Arema dan Aremania adalah dualisme.
Memasuki Kompetisi Liga 1 2018-2019 tim Arema FC mengawali liga dengan hasil yang kurang manis tak pernah menang dalam 4 laga, saat laga kandang ditahan imbang tim tamu Mitra Kukar 2-2, dilibas Persija 3-1 di Gelora Bung Karno,mengalami kekelahan kembali 2-1 saat tandang ke kandang Borneo FC.
Sedangkan Arema FC mengarungi liga 3 sampai saat ini belum pernah mengalami kekalahan. Memang beda perjalanan liga 3 yang sangat jauh dengan kualitas liga 1, namun jika melihat kreativitas mendukung, Aremania yang setia mendukung Arema FC di Liga 1 kalah jauh dengan kreativitas Aremania yang setia mendampingi Arema Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/suporter-aremania_20160218_163509.jpg)