Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Intrusi Air Laut Mencapai 2 Km ke Daratan, Bali Krisis Air Bersih

Komang Arya Ganaris sebagai Manajer Bali Water Protection mengatakan, kondisi air bersih dan cadangan air di Bali dalam masa kritis

Penulis: Busrah Ardans | Editor: Irma Budiarti
Tribun Bali/Busrah Ardans

Laporan Wartawan Tribun Bali, Busrah Hisam Ardans

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Yayasan IDEP dengan devisinya Bali Water Protection mengungkapkan fakta mengejutkan tentang cadangan air bersih di Bali, dalam konferensi pers peringatan Hari Bumi (Earth Day) dengan tema khusus Save The Water (Lindungi Air) di Bali, Jumat (20/4/2018) berlokasi di Warung Kubukopi sekira pukul 10.00 Wita.

Komang Arya Ganaris sebagai Manajer Bali Water Protection mengatakan, kondisi air bersih dan cadangan air di Bali dalam masa kritis.

Selain itu karena ketersediaan air yang menipis maka proses intrusi air laut akan masuk ke daratan.

"Menurut penelitian Dosen Geografi dari UGM tahun 2004 cadangan air di Bali tersisa 47 persen. Yang berarti sudah masuk dalam tahap kritis. Karena angka 50 ke atas masih dalam tahap normal. Kan, sumber air kita di sini itu ialah danau, sungai dan mata air. Sementara penelitian tersebut keluar 2004 dan kini sudah 2018. Sekitar 14 tahun lalu, sementara pembangunan industri, hotel, pariwisata luar biasa terjadi di Bali. Jadi kekhawatiran krisis dan proses intrusi ini membuat kami yakin," jelasnya.

Intrusi sendiri kata dia merupakan air laut yang masuk ke darat karena cadangan air di bawah tanah yang diserap dan digunakan sehari-hari semakin menipis.

"Jadi ada ruang kosong di bawah tanah yang akan masuk dan diisi oleh air laut karena air bersih kita terus di serap ke atas. Sementara secara alami serapan air ke tanah saat musim hujan terlampau lama akibat maraknya pembangunan yang mengalirkan air hujan ke laut, juga tanah resapan yang berkurang akibat alih lahan. Memang kini pemerintah Denpasar sejak 2014 sudah membangun sumur imbuhan untuk mempercepat penyerapan air," kata Ganaris.

Sementara saat ini Bali Water Production di bawah IDEP telah bekerja sama dengan Politeknik untuk melakukan riset dan mencoba membangun sumur imbuhan sebagai solusinya.

"Di Denpasar ada sekitar 220 ribu KK, sementara pengambilan air tanah tiap harinya lebih dari 60 persen. Entah industri, domestik, mal, semua mengandalkan air tanah. Yang cukup parah terkena intrusi ini sampai 1-2 kilometer ke tengah daratan itu daerah Bali Selatan, Badung, Kuta dan Denpasar. Itulah mengapa air di sekitar daerah itu kalau tidak coklat, kuning atau payau. Dengan membangun sumur imbuhan, maka dapat menekan air laut agar tidak masuk ke daratan," jelasnya.

Secara teknis ia menyebut akan membangun 3 sumur sebagai percobaan bersama dengan tim politeknik tadi.

"Tahun ini kami coba 3 sumur dulu untuk risetnya. Ada dua jenis sumur, sumur galian biasa dengan sumur pipa. Kami coba dengan sumur pipa dulu karena mencari tukang gali sumur saat ini sulit. Jadi nanti sumur pipa kami bor dulu bergantung kedalaman dangkal 3-6 meter, sedang 40-60 meter atau yang dalam hingga 100 meter. Kami sudah punya yang dangkal, saat ini mencoba untuk sedang dan dalam. Pemerintah Denpasar kini sudah membangun 17 sumur dangkal yang dilakukan tiap tahunnya dengan anggaran 100 juta, yang bisa menghasilkan 2-3 sumur. Dan ini harus dibangun sebelum musim hujan sehingga air hujan bisa langsung terserap," kata pria berambut gondrong ini.

Dia menegaskan, perimbangan yang dilakukan harus serius.

IDEP sendiri telah menganggarkan 1 miliar untuk percobaan itu dan tahun-tahun berikutnya berencana membuat 136 sumur di seluruh Bali. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved