Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Ahli Kelistrikan Universitas Udayana Pertanyakan Keandalan PLTS di Bali

Pernyataan ini dilontarkan Prof Giriantari saat ditanya tentang solusi untuk pemenuhan kebutuhan listrik di Bali

Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara | Editor: Eviera Paramita Sandi
intisari-online.com
Ilustrasi 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ahli kelistrikan dari Universitas Udayana (Unud), Prof Dr Ida Ayu Dwi Giriantari MEng meragukan pembangkit listrik tenaga sinar matahari (surya) di Bali mampu diandalkan sebagai sumber listrik utama di provinsi ini.

Disebutkan Prof Giriantari, selama ini saja Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang telah dibangun di Bali tak lebih dari 1 MegaWatt (MW) kapasitasnya, dan terbukti belum efisien.

Pernyataan ini dilontarkan Prof Giriantari saat ditanya tentang solusi untuk pemenuhan kebutuhan listrik di Bali, terutama jika kemungkinan krisis listrik di pulau ini benar-enar terjadi pada tahun 2021 atau tiga tahun lagi.

“Untuk membangun PLTS berkapasitas 1 MW saja dibutuhkan lahan 1,2 hektare. Berbicara realitas di Bali, harga lahan sangat mahal di sini, dan sudah terbatas. Itu akan menyebabkan investasi PLTS sangat besar. Padahal, listrik yang diproduksi PLTS apakah mungkin dijual ke konsumen dengan harga tinggi? Hal itu menyebabkan investor pikir-pikir untuk terjun ke PLTS,” jelas Prof. Giriantari kepada Tribun Bali pekan lalu.

Ia lantas mencontohkan PLTS di Bangli dan Karangasem, yang produksi listrik per KWh-nya akhirnya dijual Rp 3.000.

Sementara, harga jual listrik PLN ke konsumen saat ini hanya Rp 1.460 per KWh.

“Padahal, PLTS di Bangli dan Karangasem itu tanpa investasi lahan, lahannya tidak beli karena merupakan proyek percontohan pemerintah. Itu saja listrik yang dihasilkan harus dijual Rp 3.000 per KWh. Kalau lahannya beli, bisa dibayangkan berapa besar duit yang dibutuhkan dan tentu akan makin mahal tarif listriknya,” imbuh Prof. Giriantari.

Guru besar Fakultas Teknik Elektro Unud ini juga tak sepakat dengan model PLTS mini atau solar cell di rumah-rumah konsumen, karena biayanya tetap akan mahal.

“Bagaimana dengan warga kurang mampu nanti? Solar cell justru kekeliruan besar jika diadakan,” tandas dia.

Untuk diketahui, berdasarkan data PLN, permintaan listrik di Bali tumbuh rata-rata hampir 9 persen dalam 5 tahun terakhir. Dengan total persediaan listrik di Bali (daya mampu) saat ini sekitar 1.100 MW dan beban puncak 860 MW, sampai tahun 2020 Bali masih cukup aman dari sisi pasokan listrik.

Namun, jika tak ada tambahan pasokan baru, tahun 2021 Bali terancam krisis listrik.

Sebab, saat itu beban puncak diperkirakan mencapai 1.200-an MW, sedangkan daya mampu dari pembangkit-pembangkit listrik yang ada hanya bisa menyediakan 1.100 MW alias terjadi defisit listrik sekitar 100 MW.

Saat ini sebetulnya sedang ada upaya untuk mempersiapkan tambahan pasokan listrik di Bali guna mengantisipasi kemungkinan krisis listrik beberapa tahun ke depan.

Di antaranya adalah pembangunan PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) Celukan Bawang tahap II di Buleleng, serta rencana proyek penarikan kabel listrik dari Jawa ke Bali lewat udara atau Jawa Bali Crossing (JBC).

Namun, rencana pembangunan PLTU Celukan Bawang tahap II dipersoalkan oleh sekelompok masyarakat dan kini perkaranya sedang disidangkan di Pengadilan Negeri Denpasar.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved