Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Lestarikan Gandrung, Tarian Sakral Pengusir Bala Sejak Akhir Abad XIX

Tari Gandrung menjadi kekayaan seni budaya yang dimiliki masyarakat Banjar Suwung Batan Kendal. Tarian ini termasuk seni sakral

Penulis: Ni Putu Diah paramitha ganeshwari | Editor: Irma Budiarti
Tribun Bali/Ni Putu Diah Paramitha Ganeshwari
Pura Dalem Batan Kendal 

Hingga saat ini beberapa batang pohon kendal masih tumbuh rimbun di kawasan Pura Dalem Batan Kendal.

Ada pula yang tumbuh di dekat bale Banjar Suwung Batan Kendal.

Menurut Kelihan Adat Suwung Batan Kendal, I Nyoman Sarna, pohon kendal ini seolah memilih tempat tumbuhnya sendiri.

“Warga pernah mencoba menanam pohon kendal, namun tak pernah berhasil. Pohon kendal yang masih ada saat ini merupakan pohon yang tumbuh dengan sendirnya, tanpa ada yang menanam,” ucapnya.

Ia menuturkan, kalau ada yang ingin meminta bagian pohon kendal untuk meminta obat, haruslah memberi tahu pemangku Pura Dalem batan Kendal.

Biasanya pemangku akan menyarankan untuk menghaturkan beberapa sesaji, sebagai tanda mohon izin memngambil bagian pohon tersebut.

“Tidak hanya warga Suwung Batan Kendal yang memanfaatkan pohon kendal ini untuk pengobatan, namun hingga masyarakat luar Denpasar. Beberapa mengaku, jika mendapatkan petunjuk untuk berobat menggunakan bagian pohon kendal di banjar kami,” tuturnya.

Pohon kendal yang paling besar dan rimbun berada di lingkungan Pura Dalem Batan Kendal.

Keberadaan pohon ini seolah menambah nuansa spiritual bagi pura tersebut.

Pura Dalem Batan Kendal memang merupakan pura besar yang diampu oleh warga banjar Suwung Batan Kendal.

Konon pura ini sudah berdiri sejak lama.

Arsitektur pura ini tergolong unik, sebab menggunakan batu karang laut sebagai bagian bangunannya.

Pura Dalem Batan Kendal pun dianggap memiliki kaitan dengan keberadaan Pura Sakenan di Desa Serangan.

Hal ini dilihat dari adanya mendak pakuluh (memohon tirta, air suci) Pura Sakenan yang dilaksanakan di Pura Dalem Batan Kendal.

Mendak pakuluh ini dilaksanakan setiap Soma Pahing Langkir, dua hari setelah puncak pujawali di Pura Sakenan.

“Ada empat desa yang ikut dalam mendak pakuluh ini yaitu Desa Adat Sesetan, Desa Adat Sidakarya, Desa Adat Panjer, dan Desa Adat Sumerta. Untuk Desa Adat Sesetan, Sidakarya, dan Panjer, mendak pekuluh diikuti oleh krama desa. Sedangkan untuk Desa Adat Sumerta yang datang hanya pengempon. Biasanya, karena sudah mengikuti mendak pakuluh di Pura Dalam Batan Kendal, keempat desa ini tidak perlu lagi memohon tirta secara langsung ke Pura Sakenan,” jelas Nyoman Sarna.

Selain Pura Dalem Batan Kendal, masyarakat Suwung Batan Kendal pun memiliki kewajiban untuk mengempon beberapa pura seperti Pura Kahyangan, Pura Taman, Pura Prajapati, Setra Batan Kendal, Pura Begawan Penyarikan, dan Pura Melanting (di Pasar Batan Kendal).(*)

Sumber: Tribun Bali
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved