Liputan Khusus

FANTASTIS! Meski Dikepung Pasar Modern 16 Pasar di Denpasar Sumbang Angka Rp 23 M Per Tahun

Kendati pasar modern seperti mal atau plaza dan department store terus bertambah jumlahnya di Denpasar, eksistensi pasar tradisional di kota ini

Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara | Editor: Ady Sucipto
Tribun Bali/ Rizal Fanany
Suasana relokasi pedagang Pasar Badung di gedung Eks Tiara Grosir di Jalan Cokroaminoto, Denpasar, Bali, Minggu (1/5/2016). Mulai kemarin seluruh pedagang mulai berjualan di Eks Tiara Grosir. 

Bahkan kehadiran transportasi online yang menawarkan juga jasa pembelian makanan-minuman dengan sistem antar (delivery), dianggap makin menguntungkan pasar atau pedagang tradisional daripada merugikannya. 

Ciri khas berupa keakraban sosial dan tradisi tawar menawar itulah yang merupakan diferensiasi atau keunggulan komparatif pasar tradisional yang harus terus dijaga; sembari pasar tradisional berupaya memodernisasi diri secara fisik.

Khususnya dalam hal memberikan kenyamanan berbelanja, termasuk dalam hal kebersihan. 

Kenyamanan berbelanja dan kebersihan itulah yang bisa ditemukan di Pasar Sindhu, Sanur, Denpasar. Karena itu, pasar tradisional ini mampu menarik wisatawan mancanegara dan lokal untuk mampir berbelanja.  

Bukan sekadar mampir, tak jarang warga asing justru lebih memilih berbelanja di pasar tradisional. Darren Wilson, misalnya. Ia bersama keluarganya beberapa kali ke Pasar Sindhu, Sanur, Denpasar. Bersama istri dan ketiga anaknya, Wilson datang ke Pasar Shindu untuk menikmati makanan dan jajanan pasar. 

"Saya bersama keluarga ke sini untuk mencari makanan, karena makanan di sini enak. Suasananya juga khas dan tradisional, dan harga-harga murah. Terlebih lagi saya akan tinggal di Bali selama 6 bulan, jadi saya harus menekan bujet saya," kata Darren Wilson kepada Tribun Bali, Sabtu (19/5). 

Pagi hari Pasar Sindhu menjual berbagai macam kebutuhan sehari-hari seperti sayur, buah, daging, bumbu, dan ada juga stan yang menjual bahan atau alat untuk keperluan upacara adat. 

Sedangkan pada sore hari, para pedagang di sana menjual aneka jenis makanan tradisional. Wisatawan lokal maupun mancanegara berbaur untuk menikmati  pengalaman berbelanja dengan suasana pasar tradisional sekaligus untuk memenuhi kebutuhan mereka. 

Mereka terlihat asyik menikmati jenis makanan khas Bali dan daerah lainnya  seperti sate, bakso, nasi campur, mie ayam, dan lain-lain.

Ada juga jajanan tradisional Bali yang dijual dengan harga terjangkau, apalagi bagi kantong turis. 

Suasana pasar khas dan tempatnya cukup lega membuat pembeli, termasuk turis asing, betah bertahan di sana. 

"Saya bersama anak. Di sini mereka bisa leluasa bermain sembari menunggu makanan karena halaman pasar yang cukup luas," imbuh Darren.

Tantangan Tak Ringan

Bagaimanapun, Wiranata mengakui bahwa tantangan pasar tradisional ke depan juga tak ringan. Ia menyebutkan, menjamurnya toko modern (minimarket/swalayan) dari yang ukuran kecil hingga sangat besar, yang menjual juga aneka kebutuhan dapur sehari-hari, itu harus dicermati pengaruhnya ke depan oleh pasar tradisional.

Bahkan, toko modern juga tidak sedikit yang berfungsi seperti kafe atau warung. Mereka melayani pembelian makanan-minuman yang diolah di situ, dan kemudian menyediakan tempat untuk menikmatinya atau tempat nongkrong.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved