Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Puluhan Penggemar Padati Gramedia Level 21 Saat Bincang Buku Tere Liye

Bagi mereka yang suka membaca buku, bertemu dengan penulis idola adalah hal yang sangat dinanti-nanti

Penulis: Putu Supartika | Editor: Irma Budiarti
Tribun Bali/Putu Supartika
Tere Liye saat bincang buku dan tanda tangan buku di Gramedia Level 21. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Bagi mereka yang suka membaca buku, bertemu dengan penulis idola adalah hal yang sangat dinanti-nanti.

Apalagi bisa bersua, meminta tanda tangan atau berswafoto bersama.

Mungkin itulah yang dirasakan oleh puluhan penggemar Tere Liye yang kebanyakan muda-mudi tersebut.

Mereka sangat antusias sekali mengikuti acara bincang buku Pulang karya Tere Liye yang dilaksanakan di Gramedia Level 21, Jalan Teuku Umar, Minggu (27/5/2018) sore.

Para peserta diskusi yang juga penggemar Tere Liye ini, terlihat sangat antusias mendengar kata demi kata yang diucapkan penulis idola mereka.

Mereka juga mengajukan beberapa pertanyaan kepada Tere Liye terkait dunia kepenulisan, mulai dari cara agar tidak kehilangan ide saat menulis, kenapa belum menerbitkan novel bergenre horor, hingga kenapa tidak mencantumkan biodata penulis di setiap bukunya.

Bahkan ada juga peserta yang membawa buku Tere Liye sampai satu tas untuk dimintakan tanda tangan.

Sangat luar biasa antusiasnya bertemu dengan idola.

Dalam diskusi tersebut, ia memberikan tips bagaimana caranya agar tidak kehilangan kepercayaan saat menulis.

"Saya pernah 6 bulan full tidak menulis karena kehilangan kepercayaan. Namun akhir-akhir ini tidak menghasilkan tulisan saya anggap lampu merah. Sehingga caranya untuk mengembalikan kepercayaan itu dengan nonton film dan jalan-jalan," kata Tere Liye.

Saking seringnya menonton, ia telah menonton hampir dua ribuan film termasuk film Korea.

Selain itu, ia juga menjawab pertanyaan penggemarnya yang mengatakan kenapa tidak mencantumkan biodata dalam bukunya.

Ada dua alasan, pertama menulis novel tidak ada korelasi dengan siapa yang menulis novel tersebut.

"Lain kalau buku tentang kedokteran, perlu ada dan harus ada biodatanya," katanya.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved