Dharma Wacana

Renungan Hari Raya Galungan

Hari Raya Galungan secara upacara, tetap sama dari masa ke masa. Namun yang berbeda adalah kandungan di balik upacara, yakni spirit dan nilai.

Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ady Sucipto

TRIBUN-BALI.COM, -- Hari Raya Galungan secara upacara, tetap sama dari masa ke masa. Namun yang berbeda adalah kandungan di balik upacara, yakni spirit dan nilai.

Agama kita yang bersifat material, telah banyak memberikan umatnya sebuah tatanan yang humanis atau memanusiakan manusia.

Sekarang tugas kita adalah menuntun nilai-nilai tersebut pada kehidupan bermasyarakat. Maka kita akan memasuki konsep ruang dan waktu, yakni mampu menghadapi tantangan dan tuntutan zaman. Sehingga spirit Galungan menjadi hidup, dan menjadi sebuah kebutuhan dasar.

Namun yang terjadi saat ini, umat memang tetap melaksanakan Galungan. Tetapi nilai-nilai yang ada tidak diejawantahkan.

Satu contoh, tidak ada upaya pembersihan diri. Permbersihan diri yang dimaksud bukan dalam bentuk mandi air. Tetapi membersihkan diri dari tindakan atau perbuatan tercela.

Tiga hari sebelum Galungan, yakni mulai dari hari Minggu, kita sudah digempur oleh Sang Kala Tiga.

Pada Minggu atau Penyekeban, kita diserang oleh Sang Kala Galungan. Pada Senin atau Penyajan Galungan kita ditaklukan oleh  Sang Bhuta Dungulan.

Dan, pada Selasa atau Penampahan Galungan, kita dikuasai oleh Bhuta Amangkaruat.

Serangan, penaklukan dan penguasaan yang dimaksud, bukan secara fisik, tetapi penggempuran akal sehat manusia yang berakibat pada kemiskinan.

Kemiskinan yang dimaksud, bukan hanya kemiskinan material, tetapi juga miskin intelektual dan miskin rohani.

Kondisi inilah yang menyebabkan banyak orang yang hidup makmur, tetapi tidak memiliki jiwa kedharmawanan.

Orang-orang seperti inilah yang sangat berbahaya. Karena di sana melahirkan kekerasan secara simbolik.

Penting kita ketahui, bahwa kondisi tersebut terjadi, jika kita tidak membentengi diri dengan tiga hal, yakni kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan spiritual.

Di era politik Pilkada dan Pilgub ini, sangat mudah mengamati orang-orang yang sudah dikuasai Sang Kala Tiga ini.

Orang yang saling melontarkan ujaran kebencian, dan mencari-cari kesalahan orang lain hanya karena politik, mereka-mereka itulah orangnya.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved