Kembangkan Desa Wisata Gunung Salak, Inilah Sorga yang Sesungguhnya
Inilah sorga sesungguhnya, tanpa campur tangan manusia, karunia Tuhan telah menciptakan keindahan sedemikian rupa.
Penulis: Kander Turnip | Editor: Kander Turnip
TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Pariwisata merupakan nafas perekonomian Bali.
Saat ini sejumlah destinasi wisata baru pun mulai berkembang menambah daya tarik Bali disamping sederetan objek wisata yang sudah ada.
Pengelolaannya pun beragam, mulai melibatkan investor luar, pemerintah daerah, swakelola oleh kelompok ataupun desa adat melalui pengembangan lokasi desa wisata.
Langkah-langkah ini mendapat apresiasi dan dukungan Gubernur Bali Made Mangku Pastika yang mengharapkan pengelolaan harus dengan konsep yang benar, sehingga bisa menciptakan pariwisata yang teratur dan sepenuhnya mensejahterakan masyarakat di mana lokasi wisata itu berada.
Hal tersebut terungkap saat Gubernur Bali Made Mangku Pastika meninjau potensi daerah tujuan wisata baru pengembangan Desa Wisata Gunung Salak di Dusun Kemetug, Desa Gunung Salak, Selemadeg Timur, Tabanan, Bali, Sabtu (15/6/2018) lalu.
"Setelah menyaksikan sendiri secara langsung objek-objek wisata yang ada di sini seperti amparan terasering, jalur tracking, air terjun, pemandangan serta berbagai olahan beberapa sektor saya bisa sampaikan tempat inilah sorga sesungguhnya, tanpa campur tangan manusia, karunia Tuhan telah menciptakan keindahan sedemikian rupa. Oleh karena itu harus dikelola dengan benar. Kita semua tau ini akan mendatangkan uang. Pengelola harus bisa merancang peraturan yang benar-benar bisa membangun dan mengutamakan kesejahteraan masyarakat disputaran lokasi wisata ini," kata Pastika.
Pastika mengharapkan, penataan dan pengelolaan daerah tersebut menjadi lokasi desa wisata tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.
"Jangan sampai setelah jadi uang timbul masalah. Ini sudah terjadi di beberapa tempat. Maka dari awal sudah harus dirancang dengan benar, pengelola, aparat, tokoh masyarakat atau penglingsir dan masyarakat harus terlibat dan menaati apa yang sudah dirancang," imbuhnya.
Gubernur Pastika mengharapkan pengelolaan desa wisata tersebut bisa berdasarkan kearifan budaya lokal yang ada.
"Kalau bisa utamakan pengembang lokal, karena yang sesungguhya tau potensi yang ada dan apa yang patut dijaga, ya mereka. Kembangkan kekhasan daerah ini. Begitu pula aset tanah jangan sampai diperjual-belikan. Cukup pakai sistem sewa menyewa," ujar Pastika.
Pastika mengimbau masyarakat agar selalu menjaga alam dengan melakukan peremajaan dan penanaman kembali pohon-pohon untuk menjaga kekuatan tanah dengan kontur berbukit tersebut, di samping juga untuk menjaga kealamian keindahan pemandangan.
"Saya yakin cita-cita masyarakat di sini untuk menjadikan daerahnya sebagai salah satu tujuan wisata akan bisa terwujud. Oleh karena itu harus bekerja keras mewujudkan mimpi yang diharapka. Jangan kelamaan tidur," kelakar Pastika mengakhiri sambutannya.
Sementara itu Pimpinan Proyek Pengembangan Desa Wisata Gunung Salak dari Yayasan Swastika Bali, IB Giri Supriatna menyampaikan rencana pengembangan desa wisata sudah dimulai dari 2,5 tahun lalu.
Hingga saat ini, dengan keterbatasan yang ada, bersama perangkat desa dan masyarakat setempat tidak pernah menyerah untuk selalu mewujudkan mengembangkan pariwisata Desa Gunung Salak.
Membangun relasi dengan para pelaku wisata dan berkat bantuan Pemerintah Provinsi melalui BKK pun, menurutnya, sangat mendukung pengembangan tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/gubernur-bali-saat-mengunjungi-lokasi-wisata-gunung-salak-di-tabanan_20180618_234607.jpg)