Istri Terus Mengeluhkan Keadaan Sepanjang Waktu, Harus Bagaimana?
Pak Prihatin orangnya pendiam, sedangkan istrinya wanita gemuk montok yang hobinya berkeluh kesah.
Soalnya, dia tahu Asih sudah mulai mencari-cari rumah kontrakan untuk meninggalkannya.
Sedangkan Tono, menantunya yang pendiam itu, dianggapnya tidak lagi mau bicara dengannya.
Keluhan Bu Prihatin masih saja berkepanjangan. Sambil mengipas-ngipas, dia mulai mengeluh lagi pada suaminya, "Pak, kenapa sih kita tidak beli rumah di Dusun Indah atau Bukit Permai saja? Di sana kita bisa punya tetangga yang lumayan.
Tidak seperti di sini, orang luntang-lantung melulu!"
"Ah, di sana pun kau pasti akan mengeluh lagi," kata Pak Prihatin dari balik bacaannya. "Di sana juga sama saja panasnya seperti di sini," tambah Pak Prihatin.
"Pasti tidak. Kau sih memang enak, pergi kerja sampai sore. Tidak merasakan 'enaknya' dipanggang dalam oven ini sepanjang hari!" sahut Bu Prihatin dengan ketus.
Pak Prihatin tidak menyahut apa-apa, ia beranjak masuk, minum ... lalu tidur. Begitu pula anak dan menantunya. Mungkin Anda pernah berjumpa dengan orang-orang seperti Bu Prihatin, yang terus mengeluh sampai Anda rasanya enggan dekat-dekat. Mengapa sampai ada orang yang mempunyai kebiasaan seperti itu? Baiklah, kita lihat latar belakang hidupnya.
Suami Bu Prihatin cuma karyawan administrasi biasa di sebuah perusahaan swasta dan lingkungan tempat tinggal mereka bukanlah yang menjadi favorit banyak orang.
Mereka punya sebuah sepeda motor yang sudah tua, sedangkan perabot rumah sama atau lebih tua dari itu.
Pada perasaan Bu Prihatin, gara-gara faktor-faktor inilah ia tidak bisa diterima masyarakat sebagaimana mestinya.
Dulu ia bercita-cita bisa menghidangkan kopi atau teh plus camilan dengan cangkir dan piring-piring anggun, dan duduk di perabotan kayu jati berukir.
Tapi sekarang rumahnya ternyata lebih pantas jadi museum tanggung, terselip di tengah-tengah kota yang sarat dengan segala macam polusi.
Suaminya menghirup kopi dari gelas
Bu Prihatin ingin dan merasa perlu hidup kaya serba bergaya. Karena kenyataannya demikian, ia merasa tidak diterima oleh masyarakat. Memang ia benar.
Seperti banyak keluarga Iain, keluarga Prihatin tidak sampai dipandang orang dengan mendongak atau dengan sorot mata kekaguman.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-selingkuh-wanita2w_20170203_151500.jpg)