Kemampuan dan Kemauan Jadi Kunci Menciptakan Generasi Muda Tangguh
ICMI Bali menggelar acara Halal Bi Halal 1439 Hijriyah dan Dialog Kepemudaan
Penulis: Firizqi Irwan | Editor: Irma Budiarti
Laporan Wartawan Tribun Bali, Ahmad Firizqi Irwan
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Bali menggelar acara Halal Bi Halal 1439 Hijriyah dan Dialog Kepemudaan di Aula STIKOM Bali, Minggu (15/7/2018).
ICMI Bali menggandeng Pesantren Digital, Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI), dan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KBPII).
Usaha Menciptakan Generasi Muda yang Tangguh menjadi tema dalam acara yang juga menghadirkan narasumber dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Dompet Dhuafa, Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), dan Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia (JPMI).
Para peserta yang hadir diajak dan diberikan pengetahuan untuk menciptakan peluang menjadi generasi yang lebih baik dan tangguh.
Dikatakan Aries Mufti, Pengurus KEIN, generasi yang tangguh bisa dibedakan menjadi dua yaitu produktif meningkat dan produktif menghasilkan.
Namun, jika yang produktif ini meningkat tapi tidak ada yang bisa dikerjakan, semua tidak akan berjalan dengan baik.
"Apalagi saat ini generasi penerus bangsa memasuki era yang dibilang era jaman now dan yang menuju ke start up, padahal sumber daya alam kita banyak," tuturnya.
Mufti mengatakan, KEIN mengajak generasi muda menuju empat hal yautu agro, merlin, pariwisata, kreatif.
Ia melanjutkan, ketika berbicara soal start up, hanya beberapa saja yang berhasil, tapi jika berbicara tentang pariwisata, semua sarjana lulusan S1 dan S2 mampu melakukan untuk menciptakan generasi yang tangguh.
"Namun yang jadi masalahnya yaitu ketika orang-orang tidak mempunyai perilaku kultural dalam hidupnya. Ya itu masalahnya, manusianya miskin kultural, sehingga untuk melatih ini setiap perguruan tinggi, setiap orang tua, setiap agama itu harus memberi pelaharan tentang beberapa hal saja yaitu jujur, bersih, transparan dan profesional. Jadi ya dia harus jujur dan memiliki keinginan untuk belajar. Jadi orang itu kan cuman bisa dua hal saja, kemampuan dan kemauan," tambahnya.
Generasi bisa dikatakan tangguh jika pemuda dan pemudinya memiliki kemauan kuat atau pantang menyerah, malu untuk jadi benalu alias harus bisa mandiri, sering terkait ekonomi dengan kata lain generasi itu tidak bisa hidup sendiri jadi harus bersama-sama.
Generasi tangguh bisa dikatakan seperti orang yang mau bergotong royong.
"Hal inilah yang pernah diterapkan oleh bangsa atau negara lainnya seperti Korea, Jepang dan China," katanya.
"Tiga negara itu merupakan satu contoh generasi yang tangguh, karena bisa menjalin tali persaudaraan sesama bangsanya sendiri, namun kita yang ada di negara Indonesia masih belum sepenuhnya bisa melakukannya," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/icmi-bali_20180717_152717.jpg)