Mara Semringah Bisa Lebih Mudah Ambil Air, BI Bali Berharap Air Bersih Bisa Rangsang Wisata
Batumadeg merupakan dataran tinggi dan cukup kering dengan mata air berada di bawah tebing
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Irma Budiarti
TRIBUN-BALI.COM, NUSA PENIDA - Seorang kakek bernama Nyoman Mara, semringah berjalan memikul 2 ember berisi air bersih di pundaknya.
Warga Batumadeg ini bahagia, karena kini tak perlu susah payah mendapatkan air hingga jarak 3 Km untuk mandi dan memasak.
“Bih, biasanya saya naik turun ke Temeling untuk mencari air. Biasanya saya turun setengah jam ke bawah, itu saya lakukan sampai 4 kali sehari dari pagi,” jelasnya saat Peresmian Air Bersih Temeling Desa Batumadeg, Nusa Penida, Klungkung, Sabtu (14/7/2018).
Biasanya warga membuat cubang (sumur) untuk menampung air hujan, yang nantinya digunakan untuk kegiatan sehari-sehari.
Sebab daerah Batumadeg ini, kata dia, merupakan dataran tinggi dan cukup kering dengan mata air berada di bawah tebing dan jaraknya jauh.
Senada dengan Pekak Mara, seorang warga Batumadeg Agus Suryaartanada juga mengapresiasi adanya air bersih ini.
“Saya di Banjar Salak agak jauh, harapan saya nanti bisa ke rumah-rumah lah, ya kalaupun harus bayar nanti saya upayakan,” jelasnya bersemangat.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, telah lama melihat wilayah Batumadeg ini membutuhkan air.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Causa Iman Karana mengatakan, sejak 2016 ia ingin tahu wilayah yang masih membutuhkan air, listrik, dan sebagainya.
“Listrik kan bukan kewenangan BI, kebetulan di Batumadeg saya lihat ada masalah air bersih. Awalnya saya lihat bisa dengan solar sel, kemudian saya ajukan ke Jakarta, ternyata prosesnya lama. Akhirnya saya diskusi dan melihat sumber air Temeling yang jauh berada di bawah tebing dan medan yang berat. Kebetulan di Makassar pernah melakukan hal yang sama, saya upayakan air bisa naik ke atas,” ujar pria yang akrab disapa Cik ini.
Apalagi wilayah Batumadeg ini memang belum tersentuh PDAM.
“Padahal potensi wisata di wilayah barat dan selatan Nusa Penida sangat bagus, ada Kelingking Beach, ada Angels Billabong, Broken Beach, dan destinasi unggulan lainnya,” imbuhnya.
Akhirnya usulannya disetujui, dengan dana sekitar Rp 1 miliar, air dari Temeling bisa diangkat dengan pipa naik ke atas pemukiman warga.
Waktu yang dibutuhkan cukup lama, yakni setahun.
Mengingat ada perubahan sumber daya dari daya matahari ke listrik, namun saat itu PLN belum memasang listrik sehingga harus menunggu.
Cik menjelaskan, saat ini air masih gratis sampai dilakukan penataan oleh BumDes setempat.
“Jadi nanti BumDes mengelola, harganya jelas lebih murah ke masyarakat, sehingga dana ini bisa digunakan untuk memaintenance bayar listrik, perawatan mesin dan sebagainya,” ujarnya.
Termasuk cadangan apabila mesinnya rusak.
Namun apabila dijual lebih luas lagi selain Batumadeg, maka pengelola air ini bisa dilakukan oleh PDAM setempat.
Pihaknya pun, melihat Batumadeg telah menjadi daerah wisata kunjungan turis, sehingga air bersih mutlak dibutuhkan.
Ia berharap desa wisata bisa berkembang di Batumadeg, sehingga bisa menjadi pemasukan bagi warga setempat.
“Sebab Nusa Penida kan harapan kami bisa diperluas menjadi desa wisata. Turis datang melihat aktivitas sehari-hari dan mendapatkan air bersih, warga juga tidak perlu turun jauh ke Temeling,” sebutnya.
Ia berharap walaupun ada wisatawan, namun tetap tidak merusak lingkungan dan tetap menjaga suasana asri khas Bali.
Ia pun melihat banyak lokasi selain Batumadeg di Nusa Penida, yang bisa dikembangkan menjadi desa wisata.
“Kalau perlu kami bawa perbekel atau aparat desa untuk melihat desa wisata di Panglipuran, Bangli. Sehingga mereka bisa mengetahui dan menerapkannya,” jelasnya.
Selama ini, PDAM telah mengembangkan sumber air bersih dari wilayah Guyangan atau Peguyangan, Nusa Penida.
Sumber air Guyangan ini pun cukup jauh dan berada di bibir tebing, lalu diangkat oleh PDAM menggunakan pipa untuk mengaliri air bersih ke rumah warga sekitar.
Menurut Kepala Dinas PU Klungkung, Ketut Suayadnya, debit air dari Guyangan adalah 212 liter perdetik.
Dan satu lagi sumber air bersih yang dimanfaatkan PDAM berada di wilayah Penida, dengan debit air 185 liter perdetik.
“Sebenarnya ada banyak sumber air bersih di Nusa Penida, hanya saja memang lokasinya sulit dijangkau. Untuk itu, saat ini baru 26 persen penduduk yang terlayani air bersih PDAM,” tegasnya.
Padahal Nusa Penida dengan luasan sekitar 202 Km2, merupakan wilayah terbesar di Kabupaten Klungkung yang luasnya 315 Km2.
Namun kesulitan air bersih masih menjadi masalah, mengingat topografi dan kondisi gografis Nusa Penida berbukit, berbatu, dan kering.
Kepala Unit PDAM Cabang Nusa Penida, Ketut Narsa, menjelaskan, selama ini pengelolaan mata air di Guyangan memang belum maksimal bisa dimanfaatkan oleh warga Batumadeg.
“Pengelolaan Guyangan masih oleh 3 instansi, kalau dari hulu ada namanya Bali Wilayah Sungai (BWS) untuk produksi naik ke bak-bak. Kemudian dari tengah wilayah UPT Guyangan, yang tugasnya mendistribusikan dari bak ke pipa-pipa jaringan. Kemudian PDAM masuk ke sambungan rumah, dan untuk Batumadeg ini baru sebagian kecil yang kami garap, seperti Penuktuk dan Batumadeg Kaja,” jelasnya.
Pada 2018, kata dia, ada program hibah Pemprov Bali untuk Nusa Penida, dialokasikan khusus Batumadeg mencapai 250an KK dan sedang berjalan.
“Kemudian KpwBI Bali membangun alat pengangkatan air dari mata air Temeling ini sangat membantu wilayah Batumadeg dan sekitarnya seperti Salak,” tegasnya.
Selama ini, lanjut dia, PDAM membeli air curah ke UPT PAM Guyangan sebesar Rp 1.200 permeter kubik, dan didistribusikan kepada masyarakat dengan tarif dasar Rp 1.400 permeter kubik.
Belum meratanya wilayah Batumadeg mendapatkan air bersih, karena PDAM baru mengawali menyalurkan air bersih ke wilayah ini sekitar 2017 lalu.
“Nah makanya 2018 ini, kami mengajukan 250an KK di Batumadeg untuk mendapatkan subsidi dari program hibah provinsi, dari 1.160 KK yang mendapat bantuan dari hibah untuk Nusa Penida,” sebutnya.
Mata air Guyangan, kata dia, selama ini baru mengaliri wilayah 6 desa dengan jaringannya.
Kemudian dari jaringan yang ada, semua bisa teraliri air dari sistem Guyangan namun terbatas, karena ada yang digilir seminggu sekali atau 2 kali seminggu.
“Dan yang dikelola PDAM baru sebatas Desa Klumpu yang kami aliri di 2016, kemudian Batumadeg 2017 diawali,” katanya.
Hanya saja, dengan biaya operasional yang masih tinggi sumber air Temeling ini belum bisa dikelola oleh PDAM.
Ia menyebutkan, air yang diangkat di Batumadeg ini baru 2 liter perdetik, dengan asumsi hitungan PDAM baru bisa mengaliri 200 KK.
“Kalau 200 KK rasanya sulit, untuk bisa mengembalikan biaya operasionalnya,” tegasnya.
Kendala terbesar PDAM ke wilayah Batumadeg dan Salak ini, kata dia, daya untuk mengangkat air cukup sulit karena jauh berada di bawah di balik tebing.
Perbekel Desa Batumadeg, I Made Mustika menjelaskan, selama ini masyarakat membawa jerigen ke Temeling dan menempuh jarak 3 Km melalui medan terjal dan jauh di tebing.
“Selain jarak, memang medan ke Temeling sangat berat dan curam. Sehingga warga naik turun beberapa kali dan beberapa membeli di PDAM sebanyak 1 tangki dengan harga sekitar Rp 17 ribuan dan dihemat untuk mandi, makan per KK,” jelasnya.
“Ya mandinya di aturlah biar hemat,'" tegurnya.
Pihaknya telah memberitahukan kondisi di Batumadeg, dan meminta diberikan air dari Guyangan, namun ternyata belum bisa maksimal.
Sehingga sumber air yang dibuat oleh KpwBI Bali ini sangat membantu warga di Batumadeg.
“Provinsi sudah mensubsidi air Guyangan, Cuma kan kami pakai waktu atau jadwal tertentu, semisal seminggu sekali atau 2 kali untuk mendapatkannya,” imbuhnya.
Untuk mendapatkan air ini pun, hanya dipasang di keran umum, dan tidak masuk ke rumah warga dan disediakan di masing-masing banjar dinas, sehingga mengambilnya harus ke balai banjar, tidak dialiri langsung ke rumah warga.
Ia pun mengakui sumber air di Batumadeg dari mata air Temeling ini akan dikelola BumDes.
“Airnya kami jual untuk bisa menutupi biaya listrik, lebih murah pastinya kepada warga yang sebagian besar mata pencahariannya petani dan peternak," katanya.
Biaya listriknya, sebut dia, perbulan sekitar Rp 2,5 juta untuk menaikkan dari Temeling ke Batumadeg. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/kpwbi-bali-bersama-perbekel-desa_20180717_090551.jpg)