Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Bedah Buku Cerpen Dua Penulis Bali, dari Peristiwa 1965 hingga Seksualitas

Bedah buku Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci dan elaki Kantong Sperma.

Penulis: Putu Supartika | Editor: Widyartha Suryawan
TRIBUN BALI/PUTU SUPARTIKA
Buku "Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci" karya Made Adnyana Ole dan "Lelaki Kantong Sperma" karya Putu Juli Sastrawan. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR -  Dua buku cerpen karya penulis Bali dibedah di Balai Bahasa Bali, Jalan Trengguli I Denpasar, Selasa (21/8/2018).

Kedua buku tersebut yaitu Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci karya Made Adnyana Ole dan Lelaki Kantong Sperma karya Juli Sastrawan.

Tampil sebagai pembedah yaitu Prof I Nyoman Darma Putra, guru besar Universitas Udayana yang mengangkat atavisme dalam tradisi cerita pendek di Bali.

Darma Putra mengatakan, atavisme adalah munculnya kembali ciri-ciri lama atau purba.

Dalam buku Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci, atavisme tampak dalam cerpen yang berlatar peristiwa 1965.

Cerpen-cerpen yang mengangkat peristiwa 1965 yaitu Gede Juta, Siat Wengi, Men Suka, dan Darah Pembasuh Luka.

"Yang paling intens membicarakan terkait peristiwa 1965 yaitu cerpen Men Suka, sementara cerpen lainnya hanya menyentuh peristiwa tersebut," kata Darma Putra.

Kumpulan cerpen ini memuat sembilan cerpen dengan berbagai tema mulai dari mitos budaya Bali, humanistik 1965, hingga pariwisata.

Darma Putra mengandaikan cerpen yang tersaji dalam buku ini sebagai nasi campur karena temanya yang beragam.

Bedah buku cerpen karya dua penulis Bali di Balai Bahasa Bali, Jalan Trengguli I Denpasar, Selasa (21/8/2018).
Bedah buku cerpen karya dua penulis Bali di Balai Bahasa Bali, Jalan Trengguli I Denpasar, Selasa (21/8/2018). (TRIBUN BALI/PUTU SUPARTIKA)

Ia juga mengatakan bahwa cerpen hang paling bagus dalam kumpulan itu berjudul Terumbu Tulang Istri yang pernah dimuat di Harian Kompas dua tahun lalu.

"Saya pertama kali membaca cerpen ini, cerpen ini bagus sekali. Diramu dengan plot yang kompleks tapi masih bisa disimak dan kita dapat pengetahuan," paparnya.

Sementara itu, dalam kumpulan cerpen Lelaki Kantong Sperma, menurut Darma Putra, atavisme juga sangat banyak ditemui.

Hal ini bisa dilihat dari penggunaan sisipan berupa surat, pesan WA atau potongan lirik lagu dalam cerpen tersebut dan ia mengatakan bahwa ini merupakan atavisme epistolari.

"Membaca cerpen dalam kumpulan ini, saya merasa kasihan sekali dengan tokoh-tokohnya yang mengalami dan menjadi korban kejahatan seksualitas. Ini menyedihkan sekali," kata Darma Putra.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved