Ngopi Santai
Membaca Hatta, Mamaknai Sejarah
Apa yang diungkapkan Hatta, tentu masih representatif untuk menggambarkan keadaan Bangsa Indonesia kini.
Oleh : Ni Putu Destriani Devi
Mahasiswi Pasca Sarjana Teknologi Pangan Unud
“Di mana-mana orang merasa tidak puas. Pembangunan tak berjalan sebagaimana semestinya. Kemakmuran rakyat masih jauh dari cita-cita, sedangkan nilai uang makin merosot.”
“Perkembangan demokrasi pun terlantar karena percekcokan politik senantiasa. Pelaksanaan otonomi daerah terlalu lamban sehingga memicu pergolakan daerah. Tentara merasa tak puas dengan jalannya pemerintahan di tangan partai-partai.”
Itulah sepenggal tulisan yang dibuat oleh Mohammad Hatta pada tahun 1962.
Kegelisahannya ia tulis sebagai bentuk kepeduliannya terhadap Bangsa Indonesia, meski kala itu sudah tak menjabat lagi sebagai wakil presiden.
Apa yang diungkapkan Hatta, tentu masih representatif untuk menggambarkan keadaan Bangsa Indonesia kini.
Masih lekat di ingatan, ketika SMP saya menulis esai tentang ‘Harapan Bangsa Indonesia’ dan Mohhamad Hatta yang gemar membaca menjadi salah-satu contoh tokoh yang saya tulis di dalamnya.
Kini ketika membaca lagi tentang perjalanan hidupnya, saya kian dalam menyadari; buku tidak hanya jadi jendela dunia baginya. Buku adalah dunianya.
Saking cintanya pada buku, ia memboyong semua koleksi-koleksinya yang berjumlah 16 peti ke mana pun ia pergi.
Bahkan saat menikah dengan istrinya, Rahmi Rachmi, mas kawin yang ia berikan adalah sebuah buku karyanya yang berjudul ‘Alam Pikiran Yunani’.
Berbeda memang dengan pasangan Dwi Tunggalnya, Bung Karno, yang terkenal flamboyan dan memiliki banyak istri.
Bung Hatta adalah sosok yang ‘dingin’ terhadap wanita dan ia menepati sumpahnya tidak akan menikah bila Indonesia belum merdeka.
Baca: Susu Bukan Penyempurna Gizi, Slogan 4 Sehat 5 Sempurna Kini Berubah
Baca: Brwa Nouri Dipanggil Timnas Irak, Dipastikan Absen Saat Bali United Lawan Persela Lamongan
Baca: Menafsir Ungkapan Lilipaly Tim Terbaik Tidak Selalu Menang
Merumuskan “Indonesia”
Pribadi yang dikenal oleh kawan dan lawannya sebagai sosok yang sederhana, pemikir, sekaligus pendidik yang cerdik itu, kemudian mulai merumuskan ‘Indonesia’ dari negeri nun jauh di sana.
Meskipun jauh dari kampung halaman, ia tak pernah lupa asal usulnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/soekarno-hatta_20180815_141801.jpg)