Ngopi Santai

Membaca Hatta, Mamaknai Sejarah

Apa yang diungkapkan Hatta, tentu masih representatif untuk menggambarkan keadaan Bangsa Indonesia kini.

Editor: Rizki Laelani
Istimewa
Soekarno Hatta 

Bersama pemuda sebangsa tanah air yang sedang menuntut ilmu di Belanda, ia kemudian mendirikan sebuah komunitas bernama “Indische Vereeniging” yang selanjutnya kita kenal dengan ‘Perhimpunan Indonesia’.

Sungguh mengherankan, anak muda yang sejak umur belasan tahun merantau ke Rotterdam, telah memiliki kepedulian yang sangat besar terhadap penderitaan jutaan orang di tanah asalnya.

Pada setiap pertemuan-pertemuannya dengan tokoh berpengaruh dunia, ia selalu menyematkan semangat kemerdekaan dan upaya membebaskan bangsanya dari penjajahan.

Membaca, membuatnya memahami politik dan pergolakan dunia saat itu, serta membantunya melakukan negoisasi melalui tulisan.

Jika saja Hatta adalah sosok yang cerdas namun apatis, mungkin saja Indonesia tidak akan pernah ada.

Ia seorang pengamat marxisme, namun pemikiran dan tindakannya begitu humanis.

Oleh karenanyalah muncul prinsip-prinsip dasar ekonomi koperasi yang mengutamakan kebersamaan dan keadilan sosial.

Sampai sekarang kita juga mengenalnya sebagai Bapak Koperasi.

Peduli bukan hanya pada kaum mayoritas saja, meskipun ayahnya adalah seorang pemuka agama terpandang.

Hatta mengusulkan kepada Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada tanggal 18 Agustus 1945, agar kalimat “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya” diganti menjadi “Ketuhanan yang Maha Esa”.

Kini, setelah 73 tahun merdeka, bangsa yang terdiri dari ratusan suku ini masih mencoba meraih cita-cita luhur pendirinya : rakyat aman, adil, dan sejahtera.

Negara ini masih menjadi objek dari pertarungan kepentingan negara Timur dan Barat.

Kita belum seutuhnya mandiri dan menjadi subjek atas masa depan tanah air kita sendiri.

Perlu kiranya untuk dicatat, khususnya bagi generasi muda; setiap era akan menjadi repitisi bila kita tidak benar-benar memahami sejarah dan menyingkirkan egoisme.

elalu akan ada penderitaan yang sama, kesakitan, kemiskinan, dan ketidak adilan yang sama. Sampai kapan kita akan mengulang kejadian yang sama?

Baca: Bukan Melvin Platje atau Bachdim, Ternyata Pemain Ini Superior Soal VO2max

Baca: Pesan Mendalam Eks Pemain Real Madrid Pada Evan Dimas Cs Sebelum Mudik ke Spasnyol

Baca: Eksistensi DGo Vaspa untuk Keluarga Bali, Single Baru Kisahkan Perjuangan Bapak-bapak

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved