Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Liputan Khusus

Terbukti, Rumah Tradisional Bali Lebih Kokoh Meski Sering Diguncang Gempa

Bukti-bukti di lapangan menunjukkan, rumah tradisional Bali tahan dan aman dari dampak destruktif gempa.

Tayang:
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara | Editor: Eviera Paramita Sandi
Grafis Tribun Bali

Bangunan tahan gempa, lanjut Suardana, sebenarnya sudah diatur dalam kaidah dari pemerintah melalui building code Kementerian Pekerjaan Umum dan Permukiman Rakyat (PUPR). 

Hanya saja, saat ini banyak bangunan yang menggunakan bahan berat.

Tidak seperti zaman dulu yang menggunakan bahan ringan, seperti kayu.

Penyebab adanya korban jiwa dalam bencana gempa bumi, kata Suardana, bukanlah gempa itu sendiri melainkan kegagalan manusia menciptakan bangunan yang tahan gempa.

Sebab, gempa bumi adalah fenomena alam yang tak dapat dihindari.

"Maka dari itu harus diantisipasi agar tak berdampak merugikan pada lingkungan manusia. Untuk itu, tindakan utama yang harus dilakukan adalah dengan membuat bangunan yang aman terhadap gempa. Tujuan utama meminimalkan korban jiwa," terang pria lulusan Magister Teknik (MT) Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya itu.

Suardana menjelaskan, bangunan tradisional Bali memang lebih kokoh melawan gempa.

Sebab, selain diperkuat dengan susunan sineb-lambang, kerangka bangunan tradisional Bali juga diperkuat dengan adanya bale-bale yang mengikat 4 (empat) tiang atau canggah wang. 

"Konstruksi kerangka badan ini ibarat kursi atau meja. Bila mendapat gaya samping terlalu besar, ia hanya bergeser tempat saja," jelas pria yang telah berhasil merancang arsitektur beberapa hotel besar di Bali itu.

Suardana membagi tips bagaimana cara agar tembok bangunan menjadi kuat. Caranya adalah dengan menebalkan sudut-sudut tembok seperti halnya paduraksa pada tembok penyengker. 

"Jadi dinding diberi bingkai penebalan material. Dinding yang terlalu luas dibagi-bagi dalam bingkai-bingkai kecil. Bingkai-bingkai ini didigestilir sebagai pepalihan atau ornamen," jelas Suardana.

Dalam ilmu arsitektur dikenal sifat-sifat bangunan.

Dimana bangunan dengan massa yang berat akan menanggung gaya guncangan yang besar pula.

Demikian juga sebaliknya, bangunan yang ringan akan menanggung gaya guncangan yang lebih ringan akibat guncangan gempa.

Tinggi Berbahaya

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved