Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Liputan Khusus

Terbukti, Rumah Tradisional Bali Lebih Kokoh Meski Sering Diguncang Gempa

Bukti-bukti di lapangan menunjukkan, rumah tradisional Bali tahan dan aman dari dampak destruktif gempa.

Tayang:
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara | Editor: Eviera Paramita Sandi
Grafis Tribun Bali

"Pada kekosonganlah manusia merasa takjub akan kebesaran Sang Pencipta.  Sekaligus merasakan kekerdilan dan kegentaran diri amat dalam menyaksikan guncangan alam maha perkasa. 

Dari hati kecil yang paling asasi, di tengah natah, manusia mendambakan keselamatan. natah-lah aura pelepasan tumpah ruah. Pelepasan rasa ketakutan dan semacamnya. Di natah, manusia jadi luruh, dan tepekur mohon perlindungan-Nya," tutur pria kelahiran 21 September 1956.

Mengapa bangunan tradisional Bali bisa dikatakan lebih tahan gempa

Menurut Suardana, jika ditelisik secara keseluruhan, bangunan tradisional Bali dari bagian kepala memiliki atap yang ringan, rendah, kokoh, dan kaku.

Bagian badan bangunan Bali juga kokoh, lentur dan ringan, serta pada bagian kaki bangunan Bali memiliki berat yang cukup, kokoh, dan kaku.

"Selain itu denah tiap bangunan Bali sederhana dan rapi, serta dibangun satu persatu secara terpisah.  Atap yang ringan, kaku dan rapi, akan membagi rata gaya-gaya, bertumpu dalam bingkai sineb dan lambang, maka gaya-gaya tersebut akan tersalur ke tiang-tiang bangunan (saka-saka)," jelas Suardana.'

Dalam Saka-saka bangunan Bali, kayu yang terpilih mendukung atap duduk di atas sendi sendi atau yang bersifat sendi.

Antara saka dan saka terikat oleh bale bale atau oleh canggah wang.  

"Sehingga jika gempa datang mengguncang, bangunan Bali tradisional Bali biasanya hanya bergoyang saja.  Jika ada dinding yang roboh, struktur inti bangunan akan tetap berdiri di atas pondasi," terangnya

Tak Peduli Kondisi Geologi

Sementara itu, Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Provinsi Bali, Ketut Ariantana menjelaskan, Bali sebetulnya memiliki patahan-patahan aktif yang sempat terjadi di Seririt, Buleleng, dan Karangasem pada tahun 1815, 1917, 1976, dan 1979 silam dengan hiposentrum dangkal, sehingga menyebabkan kerusakan yang sangat parah kala itu.

“Gempa itu sebenarnya kejadian yang biasa. Masalahnya sekarang kan ada orang yang tinggal bermukim. Kalau di daerah gempa itu tidak ada penghuni kan tidak masalah. Mau gempa berapapun, tidak masalah. Makanya, perlu mitigasi agar meminimalkan terjadinya korban jiwa,” kata Ariantana kepada Tribun Bali pekan lalu.

Ariantana menyarankan pemerintah, khususnya di Bali, mulai menerapkan sistem tata ruang berbasiskan geologi.

Sebab, menurut dia, saat ini pembangunan sudah tidak memperhitungkan aspek geologi sehingga jika terjadi bencana seperti gempa dan tsunami, bisa menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.

“Misalnya di Karangasem. Sudah tahu di sana daerah dengan tingkat gempa yang cukup tinggi, masih saja orang berbondong-bondong membuat rumah dekat dengan gunung. Di Seririt di kawasan Pantai Lovina juga sekarang sedang dikembangkan. Di Kuta pun seharusnya lebih banyak bangunan tinggi. Karena kalau ada tsunami orang tinggal naik ke atas,” kata Ariantana.

Ariantana melanjutkan, dari catatan sejarah, Bali belum pernah mengalami tsunami.

Namun tidak menutup kemungkinan jika terjadi gempa dengan magnitudo besar, tsunami bisa terjadi di Bali.

“Yang pernah kena tsunami kan Banyuwangi. Kalau di sana terjadi gempa, tsunami bisa terjadi sampai di Bali. Jadinya kalau berbicara tsunami, kemungkinan kita menerima kiriman tsunami dari Jawa Timur. Karena di sana sudah pernah terjadi tsunami. Waktu tsunami di Aceh saja sampai di Pakistan kan?” tutur Ariantana.(win/bus)

Sumber: Tribun Bali
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved