Ngopi Santai

Sekali Lagi Luis Milla

Luis Milla diharapkan jadi sang 'mesias' bagi sepak bola Tanah Air khususnya di tingkat senior. Di level ini, timnas tak pernah angkat tropi

Penulis: Miftachul Huda | Editor: Rizki Laelani
Luis Milla dan Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi 

Dengan pola permainan bola pendek, pertahanan rapat, penguasaan bola maksimal, bisa dijadikan pilihan selain pola mainstream timnas sebelumnya yang mengandalkan serangan dari dua sayap lalu dipungkasi umpan umpan jauh ke jantung pertahanan lawan.

Racikan Luis Milla dianggap sesuai dengan konsep sepakbola Indonesia yang dijadikan kurikulum PSSI dengan nama Filanesia atau filosofi sepakbola Indonesia.

Konsep Luis Milla bukan hanya enak ditonton tapi juga membuat pertahanan lawan makin renyah untuk ditembus.

Lihat saja orkestrasi Lilipaly dan determinasi Sadil Ramdani yang bukan hanya piawai menjebol gawang lawan, skill mereka juga mampu merepotkan garis pertahanan.

Lalu Beto Goncalves di usianya yang masuk senja dalam sepakbola membuat umurnya hanya sederet angka angka saja, statistik golnya di Asian Games layaknya pemain muda yang penuh gairah dilanda asmara.

Namun dibalik itu semua, pertanyaan besar belum terjawab, apakah Luis Milla mau kontraknya diperpanjang? Kegelisahan ini juga dikatan Edy saat jumpa pers pekan lalu.

Sampai kini sepekan pasca perpanjangan belum ada komentar resmi ketersediaan dari sang pelatih, (kabar terakhir Danurwindo dan Bima Sakti jadi pelatih interim sambil nunggu Milla).

Namun kesempatan melatih juga masih sangat terbuka. Apalagi Indonesia bagi Milla sangat penting, bahkan dalam level tertentu bisa lebih penting dari Real Madrid yang pernah ia bela.

Ungkapan ini secara tersirat pernah dikatakan asistennya: Bima Sakti.

Kata Bima, Luis Milla tidak pernah sesedih seperti saat Timnas Kalah dari Uni Emirat Arab, bahkan kesedihannya ini tak ada apa apanya dibanding kalah 2 kali dari final champion Liga Eropa saat main di Spanyol dulu.

Bagi Anda yang jomblo coba bayangkan, kesedihan Luis Milla hanya setara dengan kesedihan seperti saat malam minggu tiba kuota pulsa habis, dompet tipis, satu satunya jalan ya hanya menangis. Paripurna sudah.

Kembali ke Luis Milla, suporter kini masih menumpukan harapan kepada Milla, saya termasuk dalam barisan suporter yang berharap Milla melatih.

Ayolah Milla sekali lagi bawa garuda terbang lebih tinggi.

Milla tentu sudah tahu banyak dari rakyat Indonesia menempatkan sepakbola bukan sekadar olahraga bagaimana menjaringkan bola ke jala lawan, tapi lebih dari itu.

Ada nasionalisme, ada fanatisme, ada kebanggaan yang berlebih bahkan ada yang menempatkannya sederajat dengan agama, karena itu Milla, ayo banggakan kami sekali lagi.

Masih ada dua tropi yang bisa kau rebut, ada Piala AFF Nopember-Desember 2018, ada Sea Games 2019, semua piala itu masih logis untuk diangkat.

Ayo Milla, Kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan Anda masak sih Edy Rahmayadi? (*)

Baca: Ini Doa Haji Lulung untuk Ahok yang Akan Menikahi Polwan Mantan Ajudan Veronica Tan

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved