Ngopi Santai

'Teori' Pencet Balon

Kalau kita mengakses sumber yang tak terbatas, maka yang mengalir dari sumber itu juga tak terbatas.

Penulis: Sunarko | Editor: Ady Sucipto
Istimewa/net
ilustrasi 

"Teori" Pencet Balon

(6 menit untuk membacanya)

TRIBUN-BALI.COM, - Kalau kita mengakses Sumber ("s" dengan huruf besar) yang tak terbatas, maka yang mengalir dari Sumber itu juga tak terbatas. Namun jika yang diakses adalah sumber (huruf "s" kecil) yang terbatas, maka yang tersalur juga terbatas.

Konsekuensi mengakses sumber yang terbatas: kalau seseorang mengeluarkan sesuatu, maka ada yang berkurang (terambil/diambil) di satu sisi, dan di sisi lain ada yang bertambah. Jadi ada tarik-menarik.

Konsepsi atau “matematika berpikir” inilah yang menggerakkan banyak praktik dalam bidang bisnis selama ini, bahkan secara umum dalam interaksi atau pergaulan antar manusia.

Apalagi, sejak awal dalam pelajaran atau mata kuliah Ilmu Ekonomi ditegaskan bahwa (aktivitas) ekonomi itu berangkat dari cara pandang bahwa sumber daya di dunia ini terbatas, sehingga manusia harus berkompetisi, berebut bahkan berantem untuk menang atau survive.

Cara berpikir seperti ini mewarisi pandangan Charles Darwin bahwa evolusi itu menyeleksi siapa yang paling kuat. Bahwa proses evolusi selalu ditenagai oleh rasa takut, sehingga akhirnya terjadilah imperialisme oleh mereka yang paling kuat.

Memang rasa takut bisa memberi tenaga (kekuatan). Orang yang takut anjing dan dikejarnya, secara spontan energi fisiknya akan mendadak naik. Pagar dua meter bisa dia lompati.

Namun, hidup yang didorong oleh motif berebut dan rasa takut tentu destruktif, tidak akan pernah mendatangkan kebahagiaan hakiki.

Ironisnya, justru perebutan dan rasa takut inilah yang menjadi dasar dari modernitas era materialistik. Dunia dianggapnya sebagai medan tempur, bukan ladang amal.

Hidup dianggapnya ya sebatas dan hanya di dunia, dan setelah itu selesai. Tidak ada after life atau kehidupan akhirat.

Perspektif semacam ini kalau disebut secara vulgar pada dasarnya adalah ateistik. Peran Tuhan disingkirkan, atau bahkan dianggap tidak ada.

Kalaupun Tuhan masih diakui, Tuhan dianggap sebagai pelengkap-penyerta bahkan pelengkap-penderita. Tuhan tidak diletakkan pada posisi atau sebagai orientasi sentral, sebagai yang menggerakkan, menghidupi, dan menjadi pusat segalanya di semesta ini.

Teori evolusi Darwin tersebut sebetulnya sudah mental oleh bukti-bukti empiris historis di banyak tempat.

Di Nusantara, misalnya, mbah-mbah kita terus berjuang mempertahankan bangsa dengan senjata seadanya, dan akhirnya menang. Itu semua dilandasi oleh rasa cinta (tanah air), bukan ketakutan.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved